
Pengurus Juga Berinovasi
Membuat Masker
Pengurus masjid melakukan survei kecil-kecilan terhadap pedagang. Dari survei itu, omzet pasar sore di prediksi bisa mencapai Rp7,5 miliar dalam sebulan. ”Setidaknya bisa untuk kebutuhan lebaran, bisa membayar kontrakan rumah, bisa melanjutkan kehidupan,” tuturnya.
Pasar sore merupakan salah satu upaya pengurus Masjid Jogokariyan untuk membantu masyarakat bertahan selama pandemi. Jazir menceritakan, karena pandemi, banyak warga yang mengeluh kehilangan pendapatan. ”Semua itu di keluhkan ke masjid,” terangnya.
Bahkan berkali-kali warga datang untuk meminta bantuan, sekadar untuk makan. Para ustaz juga berupaya mendapatkan bantuan pinjaman untuk enam bulan. ”Tidak ada ceramah, tidak ada khotbah,” kata Jazir.
Karena itu, Masjid Jogokariyan tetap beraktivitas. Tidak hanya mengumpulkan sedekah, pengurus juga berinovasi membuat masker. ”Pada awal pandemi, kami kerahkan 50 ibu-ibu untuk membuat masker,” paparnya.
Karena memiliki hubungan baik dengan sejumlah bank syariah, akhirnya banyak pesanan dari bank-bank syariah. Hasilnya, 100 ribu masker terjual dalam beberapa bulan awal pandemi. ”Pengusaha konfeksi juga kami pekerjakan. Bahkan, ada pengusaha properti yang mengerahkan karyawannya untuk membuat masker dari Masjid Jogokariyan,” ungkapnya.
Pernah juga pengurus membuat hand sanitizer dari fermentasi singkong. Di olah di rumah beberapa warga. ”Semua di lakukan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat,” tuturnya.




