The Queen’s Gambit: Potret Nyata Diskriminasi Perempuan dan Kesehatan Mental di Tahun 60-an
KALTENG.CO-Catur bukan sekadar permainan papan antara dua orang. Ia adalah simulasi peperangan strategi untuk menjatuhkan kerajaan lawan.
Sejak ratusan tahun lalu, catur bertahan sebagai “nenek moyang” permainan strategi yang menuntut ketajaman logika dan ketahanan mental.
Namun, apa jadinya jika kecerdasan luar biasa di atas papan kotak-kotak ini harus beradu dengan trauma masa kecil dan adiksi? Itulah inti dari miniseri fenomenal The Queen’s Gambit.
Sinopsis: Perjalanan Beth Harmon Menaklukkan Dunia
Miniseri ini mengikuti kisah Elizabeth “Beth” Harmon (diperankan secara memukau oleh Anya Taylor-Joy). Kehidupan Beth dimulai dengan tragedi saat ia kehilangan ibunya dan harus tumbuh di panti asuhan Methuen Home for Girls.
Di tempat yang kaku tersebut, Beth menemukan pelarian melalui Tuan Shaibel, seorang petugas kebersihan panti. Lewat papan catur di gudang bawah tanah, Beth menyadari bakat alaminya. Namun, di saat yang sama, ia mulai terjerumus dalam ketergantungan obat penenang yang dibagikan secara rutin di panti tersebut—sebuah adiksi yang akan membayanginya hingga dewasa.
Setelah diadopsi oleh pasangan Wheatley, karier catur Beth mulai melejit. Dari pertandingan lokal hingga turnamen internasional, Beth membuktikan bahwa gender bukan penghalang untuk mendominasi olahraga yang saat itu dikuasai pria.
Konflik Batin: Keangkuhan dan Kekalahan
Perjalanan Beth tidak selalu mulus. Kesuksesan yang datang cepat membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang sombong dan cenderung meremehkan lawan. Beth memiliki ambisi besar: menjadi Grandmaster dan mengalahkan dominasi pecatur Uni Soviet yang saat itu tak terkalahkan.
Titik balik Beth terjadi saat ia bertemu Benny Watts (Thomas Brodie-Sangster), juara nasional AS. Kekalahan dari Benny menyadarkan Beth bahwa bakat alami saja tidak cukup; catur membutuhkan dedikasi, kerendahan hati, dan kejernihan pikiran tanpa pengaruh zat adiktif.
Latar Belakang dan Isu Sosial yang Kuat
Berlatar belakang Amerika Serikat tahun 1950-an hingga 1960-an, The Queen’s Gambit berhasil memotret isu sosial pada masa itu:
- Diskriminasi Gender: Bagaimana Beth harus berjuang di lingkungan yang menganggap remeh kemampuan intelektual perempuan.
- Perang Dingin: Rivalitas antara Amerika Serikat dan Rusia yang tercermin di atas papan catur.
- Kesehatan Mental & Adiksi: Penggambaran jujur mengenai ketergantungan alkohol dan obat-obatan sebagai pelarian dari rasa kesepian.
Informasi Produksi: Seri ini diadaptasi dari novel karya Walter Tevis (1983). Judul “Queen’s Gambit” sendiri diambil dari salah satu pembukaan catur tertua, yakni strategi mengorbankan bidak menteri demi menguasai pusat papan.
Skor dan Prestasi
Tidak mengherankan jika miniseri ini menjadi salah satu tayangan paling sukses di dunia. Kualitas akting, sinematografi yang artistik, dan narasi yang kuat membuahkan hasil:
- IMDb: 8.5/10
- Rotten Tomatoes: 96% Tomatometer
- Penghargaan: Memenangkan berbagai kategori di Golden Globes, Emmy Awards, dan banyak ajang bergengsi lainnya.
Tontonan Wajib bagi Pecinta Drama Strategi
Meskipun membawa latar masa kecil, The Queen’s Gambit adalah tontonan dewasa. Adegan-adegan yang mengangkat isu adiksi dan dinamika psikologis yang kompleks membuatnya tidak cocok untuk penonton di bawah umur.
Secara keseluruhan, seri ini adalah mahakarya yang menunjukkan bahwa kemenangan paling sulit bukan saat menjatuhkan raja lawan, melainkan saat kita harus berdamai dengan “setan” dalam diri sendiri. (*/tur)




