BeritaKAWAT DUNIAPOLITIKA

Tolak Imperialisme Baru, Macron di Davos: Eropa Bukan Subordinat Amerika Serikat!

KALTENG.CO-Ketegangan diplomatik antara Prancis dan Amerika Serikat mencapai titik didih baru di panggung Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyampaikan pidato penuh metafora dan sindiran tajam yang ditujukan kepada Presiden AS, Donald Trump, menyusul insiden pembocoran pesan pribadi yang memicu kegaduhan global.

Meskipun Macron tidak menyebut nama Trump secara eksplisit, atmosfer di Davos pada Selasa (20/1/2026) terasa sangat tegang. Pidato tersebut menjadi respons diplomatik paling berani dari Istana Élysée setelah Trump mengunggah tangkapan layar percakapan pribadi mereka ke platform Truth Social.

Krisis Kepercayaan Lintas Atlantik: Bocornya Pesan Pribadi

Konflik ini bermula ketika Donald Trump secara kontroversial membagikan pesan pribadi Macron yang membahas dua isu sensitif:

  1. Ambisi AS terhadap Greenland: Kebingungan Prancis atas niat Washington merebut wilayah otonom Denmark tersebut.
  2. Keterlibatan Rusia: Usulan Macron untuk mengadakan pertemuan G7 di Paris dengan melibatkan Rusia di luar agenda resmi.

Langkah Trump membocorkan komunikasi rahasia antar-kepala negara dianggap sebagai pelanggaran protokol diplomatik yang berat, memicu Macron untuk menggunakan mimbar Davos sebagai alat perlawanan balik.


Mandiri atau Terpinggirkan: Visi Macron untuk Eropa

Dalam pidatonya, Macron menegaskan bahwa Eropa tidak boleh lagi bersikap pasif di tengah tekanan ekonomi dan politik dari Washington. Ia menyerukan agar Benua Biru menggunakan seluruh instrumen kedaulatannya.

“Eropa tidak seharusnya ragu untuk mengerahkan semua alat yang dimilikinya demi menjaga kepentingannya,” tegas Macron di hadapan para pemimpin dunia.

Pernyataan ini muncul sebagai jawaban atas ancaman tarif dagang yang terus dilontarkan pemerintahan Trump. Macron menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi melalui:

  • Percepatan Inovasi: Mengurangi ketergantungan teknologi pada kekuatan luar.
  • Investasi Swasta: Meningkatkan suntikan modal di sektor strategis.
  • Reformasi Internal: Membenahi birokrasi Eropa agar lebih lincah dalam persaingan global.

Sindiran Tajam: Imperialisme Baru dan “Bullying” Politik

Tampil ikonik dengan kacamata aviator-nya, Macron mengkritik pola kompetisi Amerika Serikat yang dianggap berusaha mensubordinasikan Eropa. Ia menolak keras dunia di mana konflik “dinormalisasi” dan diplomasi dijalankan dengan cara intimidasi.

“Bukan Waktunya Kolonialisme Baru”

Macron secara khusus menyindir klaim-klaim sepihak mengenai penyelesaian konflik global. “Ada pihak yang mengklaim konflik telah ‘diselesaikan’ di saat dunia justru semakin tidak stabil,” ujarnya, yang merujuk pada gaya klaim kemenangan kilat khas Trump.

Ia menutup pidatonya dengan pernyataan paling tajam yang langsung menyasar etika kepemimpinan Gedung Putih saat ini:

“Ini bukan waktunya imperialisme baru atau kolonialisme baru. Kami lebih memilih rasa hormat daripada perundungan (bullying). Kami lebih memilih supremasi hukum daripada kekerasan.”


Analisis: Mengapa Ini Penting?

Pidato Macron di Davos 2026 bukan sekadar pembelaan diri, melainkan upaya memposisikan Prancis sebagai pemimpin moral di Eropa.

Di tengah ancaman perang dagang dan ketidakpastian geopolitik, Macron ingin memastikan bahwa hubungan trans-atlantik harus didasarkan pada kesetaraan, bukan tunduk pada tekanan satu pihak.

Dengan tensi yang terus meningkat, publik kini menunggu apakah Washington akan membalas sindiran ini melalui kebijakan ekonomi baru atau justru menurunkan tensi retorikanya di media sosial. (*/tur)

Related Articles

Back to top button