Wajib Dikunjungi! Intip Keseruan Festival Menjawet Rotan, Mahaga Hutan di Kasongan

KASONGAN, Kalteng.co-Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, bukan sekadar titik di peta Borneo. Wilayah ini adalah jantung dari tradisi rotan yang telah berdenyut selama berabad-abad. Bagi masyarakat setempat, rotan bukanlah sekadar komoditas hutan biasa; ia adalah identitas budaya dan napas kehidupan sehari-hari yang diwariskan lintas generasi.
Namun, di balik keindahan anyamannya, industri rotan rakyat menghadapi tantangan besar yang mengancam kelestariannya. Menjawab tantangan tersebut, sebuah inisiatif besar bertajuk Festival “Menjawet Rotan, Mahaga Hutan” siap digelar sebagai titik balik kebangkitan ekonomi hijau di Katingan.
Sentuhan Perempuan di Balik Sehelai Rotan
Budaya rotan di Katingan memiliki dimensi sosial yang unik. Dalam praktiknya, terjadi pembagian peran yang harmonis:
Laki-laki: Bertanggung jawab dalam pengumpulan dan pengolahan bahan baku dari hutan.
Perempuan: Memegang peran sentral dalam pembersihan dan proses kreatif menganyam (menjawet).
Menganyam bukanlah pekerjaan instan. Dibutuhkan ketelitian, ketekunan, dan waktu sekitar 2 hingga 3 hari untuk menghasilkan satu produk, tergantung pada kerumitan motif dan ukurannya. Hal ini menjadikan perempuan sebagai aktor kunci dalam penciptaan nilai tambah ekonomi di tingkat rumah tangga.
Tantangan Pasar dan Ancaman Regenerasi
Selama bertahun-tahun, pengrajin rotan Katingan terjebak dalam masalah klasik: keterbatasan akses pasar. Pemasaran yang hanya bergantung pada jaringan lokal dan pameran insidental membuat nilai ekonomi anyaman seringkali kalah bersaing dengan perdagangan rotan mentah.
Dampaknya cukup mengkhawatirkan. Minat generasi muda untuk meneruskan tradisi menganyam menurun karena dianggap kurang menjanjikan secara finansial. Jika dibiarkan, keahlian adiluhung ini terancam hilang ditelan zaman.
Harapan Baru Melalui Integrated Rattan Supply Chain (IRSC)
Melihat potensi yang besar, dalam 20 bulan terakhir, Yayasan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) bersama PT Harmoni Usaha Indonesia (HUI) dan Tropical Forest and Land Conservation (TFLC) telah menginisiasi program Integrated Rattan Supply Chain (IRSC).
Program ini berhasil membentuk rantai pasok yang terintegrasi, mulai dari penguatan kapasitas produksi hingga pengorganisasian pengrajin rumahan. Hasilnya, kualitas dan kuantitas produksi anyaman mulai meningkat secara signifikan. Kini, fokus utama beralih pada ekspansi pasar dan peningkatan visibilitas produk di kancah nasional maupun internasional.
Festival Menjawet Rotan, Mahaga Hutan: Merayakan Identitas dan Hutan
Sebagai wadah strategis untuk mempertemukan produk lokal dengan pasar yang lebih luas, Festival “Menjawet Rotan, Mahaga Hutan” (Menganyam Rotan, Menjaga Hutan) akan segera diselenggarakan.
Tujuan Utama Festival:
Pengakuan dan Dukungan: Menggalang apresiasi atas kerja pelestarian rotan oleh masyarakat, terutama perempuan Katingan.
Kolaborasi Ekonomi: Mendorong terciptanya inisiatif ekonomi berbasis rotan yang adil dan lestari.
Edukasi Budaya: Menyebarluaskan pengetahuan mendalam tentang budaya rotan kepada publik luas.
Apresiasi Pelestari: Merayakan kepemimpinan petani dan penganyam dari tiga kecamatan yang telah berdedikasi selama bertahun-tahun.
Kesadaran Lingkungan: Menumbuhkan pemahaman bahwa rotan adalah sumber daya berkelanjutan yang menjaga kelestarian hutan Kalimantan.
Output yang Diharapkan:
Melalui festival ini, diharapkan lahir kemitraan strategis antara pemerintah, badan usaha, dan masyarakat. Selain itu, festival ini menjadi ruang diskusi untuk merumuskan model pasar alternatif dan sertifikasi yang mampu meningkatkan nilai jual anyaman secara inklusif.
Catat Tanggalnya!
Mari menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kerakyatan berbasis hutan. Hadiri dan saksikan keahlian jemari pengrajin Katingan dalam:
Acara: Festival Menjawet Rotan, Mahaga Hutan
Waktu: Sabtu, 11 April 2026
Tempat: Gedung Dekranasda, Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah
Festival ini bukan sekadar pameran, melainkan sebuah momentum untuk memastikan bahwa setiap helai rotan yang dianyam membawa manfaat ekonomi yang adil, sekaligus menjaga hutan Kalimantan tetap lestari untuk masa depan.
“Menjawet Rotan, Mahaga Hutan: Seutas rotan, seribu harapan untuk bumi dan kesejahteraan.” (*/tur)



