Petani Jual Cabai ke Pengepul Rp75 Ribu Per Kg

PALANGKA RAYA kalteng.co – Harga cabai di pasar-pasar Kota Palangka Raya belakangan ini melambung tinggi, bahkan tembus di harga Rp120 ribu per kilogram (Kg). Di lokasi pertanian Palangka Raya, petani menjual cabainya seharga Rp75 ribu per Kg kepada pengepul.
“Harga cabai perkilo saya jual seharga Rp75 ribu per kilo ke pengepul. Harga ini turun dari harga sebelumnya,” ucap salah satu petani di Palangka Raya, Asep Eka DS kepada Kalteng Pos, Selasa (26/1).
Menurut Asep yang menjadi petani sejak 2016 lalu ini, untuk memasarkan hasil tanamannya, Asep masih menggunakan sistem pemasaran melalui pengepul. Sebab ada kelebihan yang ia dapatkan, meski begitu diakuinya ada juga kekurangannya.
“Kelebihannya kalau menjual melalui pengepul, jika cabai berlimpah dan harga murah di pasar, pengepul tetap masih mau mengambil. Tapi jika harga mahal, harga itu dipermainkan para pengepul,” ujarnya kepada Kalteng Pos,
Asep yang pernah terjun dalam dunia politik ini menambahkan, saat ini mengalami kesulitan menanam cabai di musim penghujan, sehingga banyak jamur atau cendawan yang menyerang tanaman cabainya. Untuk mengatasi itu, ia lebih intensif lagi dipenggunaan fungisida.
“Kalau penyebab lainnya atas kenaikan harga cabai ini, juga dikarenakan di daerah Jawa banyak yang gagal panen, karena curah hujan yang tinggi dan daerah Kalsel yang dilanda banjir,” terangnya.
Menurut Asep, biasanya dalam satu kali menanam cabai umurnya tujuh bulan. Bahkan bisa sampe satu tahun, asalkan paham dalam penanganannya. Sekali jual, Asep bisa menjual cabai sebanyak 60 Kg per empat hari sekali, dari jumlah 550 pohon yang ia tanam.
Meskipun dalam hal pemasaran cabai sudah ada pengepul, ia tetap berharap kepada pemerintah untuk sering mengadakan pasar tani dan pasar kaget.
“Supaya kami bisa menjual langsung hasil pertanian kami,” tuturnya.
Ketika ditanya mengenai pendapatannya saat pandemi, ia mengatakan, di awal pandemi Covid-19 petani sepertinya juga sangat terdampak. Itu karena, di awal-awal pandemi Covid-19 permintaan sedikit, sementara hasil pertanian menumpuk.
“Tapi kalau sekarang udah mulai aman,” tandasnya. (aza)




