BeritaEkonomi BisnisKAWAT DUNIAUtama

Bitcoin Terkapar di Bawah Rp 1,31 Miliar! Efek Tarif Trump dan Ketegangan Global Menghantam Kripto

KALTENG.CO-Harga Bitcoin kembali jeblok di bawah USD 80.000 akibat kekhawatiran geopolitik dan kebijakan ekonomi Donald Trump. Likuidasi kripto melonjak, pasar saham ikut tertekan!

Aset kripto andalan, Bitcoin, kembali menunjukkan volatilitasnya dengan mengalami penurunan signifikan pada akhir pekan ini. Harga Bitcoin terpantau jatuh di bawah level psikologis USD 80.000 atau sekitar Rp 1,31 miliar pada Minggu (6/4/2025).

Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan ekonomi baru yang diumumkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump.

Dilansir dari BeInCrypto, pelemahan harga Bitcoin ini sejalan dengan lonjakan besar dalam likuidasi posisi berjangka (futures). Total likuidasi aset kripto pada hari Minggu tercatat menembus angka fantastis USD 590 juta atau setara dengan Rp 9,6 triliun.

Ironisnya, sebagian besar likuidasi ini berasal dari posisi long atau posisi beli, yang menunjukkan banyak trader yang sebelumnya bertaruh harga akan naik justru mengalami kerugian besar.

Ethereum (ETH), aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, juga turut merasakan tekanan. Para trader Ethereum menyumbang sekitar USD 72 juta dari total likuidasi tersebut, semakin memperburuk sentimen negatif di pasar kripto secara keseluruhan.

Sentimen Bearish Meningkat di Kalangan Trader Bitcoin:

Data pasar menunjukkan adanya pergeseran sentimen di kalangan pelaku pasar Bitcoin. Proporsi posisi short atau posisi jual yang bertaruh harga akan turun terus mengalami peningkatan.

Rasio long-short Bitcoin kini berada di angka 0,89, yang berarti hampir 53 persen trader saat ini mengambil posisi untuk mendapatkan keuntungan dari penurunan harga.

Tren ini mencerminkan meningkatnya keraguan para investor terhadap prospek jangka pendek Bitcoin. Performa Bitcoin di kuartal pertama tahun 2025 juga menjadi perhatian, di mana aset digital ini mencatatkan penurunan sebesar 11,7 persen. Ini merupakan kinerja kuartal pertama terburuk bagi Bitcoin sejak tahun 2014.

Pasar Saham Global Ikut Terkoreksi:

Kondisi pasar kripto yang tertekan sejalan dengan performa pasar saham global yang juga mengalami turbulensi. Indeks-indeks utama seperti Nasdaq 100, S&P 500, dan Dow Jones secara bersamaan memasuki zona koreksi pada pekan lalu. Ini menandai performa mingguan terburuk bagi pasar saham sejak awal pandemi COVID-19 pada tahun 2020.

Dampak negatif dari sentimen global ini turut menyeret pasar kripto yang lebih luas. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan menyusut sebesar 2,45 persen menjadi USD 2,59 triliun atau sekitar Rp 42.476 triliun.

Kekhawatiran Stagflasi Picu Aksi Jual:

Kekhawatiran investor semakin memuncak setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memberikan peringatan terkait rencana tarif besar-besaran yang diumumkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump.

Powell khawatir kebijakan tarif tersebut berpotensi memicu inflasi yang tinggi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi, sebuah kombinasi mematikan yang dikenal sebagai stagflasi.

Stagflasi menciptakan dilema kebijakan yang sulit bagi para pembuat kebijakan. Upaya untuk merangsang pertumbuhan ekonomi berisiko memperburuk inflasi, sementara kebijakan pengetatan moneter untuk menekan inflasi justru dapat menekan daya beli masyarakat dan menghambat laju pertumbuhan ekonomi.

Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi seperti ini, Bitcoin, yang selama ini sering dianggap sebagai aset lindung nilai atau safe haven, pun tidak luput dari tekanan jual. Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko di tengah kekhawatiran akan kondisi ekonomi global yang memburuk.

Dominasi Bitcoin Masih Kuat:

Meskipun mengalami penurunan harga yang signifikan, Bitcoin masih mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar kripto. Dominasi Bitcoin terhadap kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan saat ini berada di angka 62 persen. Ethereum menyusul di posisi kedua dengan pangsa pasar sebesar 8 persen.

Volatilitas Diprediksi Masih Tinggi:

Dengan dibukanya kembali pasar keuangan Amerika Serikat pada Senin (7/4/2025) waktu setempat, para analis memperkirakan volatilitas yang tinggi masih akan membayangi pasar. Bitcoin, yang pergerakannya sangat dipengaruhi oleh tren likuiditas global dan sentimen pasar, diprediksi akan terus menghadapi ujian berat dalam beberapa hari mendatang.

Para investor dan trader kripto disarankan untuk tetap waspada dan mempertimbangkan risiko yang ada dalam kondisi pasar yang tidak pasti ini. (*/tur)

https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Related Articles

Back to top button