Bitcoin Melempem, Emas Diam-Diam Cetak Kenaikan Fantastis di Tengah Pelemahan Dolar

KALTENG.CO-Pasar aset global kembali menunjukkan dinamika yang menarik. Di saat Bitcoin masih tertekan dan kesulitan bangkit, emas justru diam-diam terus mencetak kinerja impresif, nyaris menyentuh rekor tertinggi.
Fenomena ini terjadi di tengah sentimen makroekonomi global yang seharusnya menguntungkan keduanya: pelemahan dolar AS dan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed).
Pada Kamis (29/8), harga Bitcoin sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dengan menyentuh US113.000atausekitarRp1,84miliar,namuntakbertahanlama.Asetkriptoterbesarinikemudianberbalikarahdanditutupmelemahdikisaran∗∗US111.800 (sekitar Rp1,82 miliar)**. Dalam 24 jam terakhir, penurunannya tercatat sebesar 0,7%.
Tak hanya Bitcoin, sebagian besar altcoin besar juga ikut tertekan. Ethereum (ETH) turun 2,1%, sementara XRP melemah 1,4%. Hanya Solana (SOL) yang berhasil mencatatkan kinerja positif, naik 3,1% dalam periode yang sama.
Emas Menyentuh Rp56,6 Juta per Ons, Unggul Jauh dari Bitcoin
Di sisi lain, logam mulia emas terus menunjukkan kekuatannya yang stabil. Harga emas naik 0,8% dan kini berada di level US$3.477 per ons atau setara Rp56,6 juta. Angka ini hanya selisih sedikit dari rekor tertingginya di angka US$3.534 (Rp57,6 juta) yang sempat dicapai awal Agustus lalu.
Perbandingan kinerja keduanya sepanjang bulan Agustus semakin mempertegas perbedaan nasib mereka. Emas berhasil mencatatkan kenaikan hampir 4%, sementara Bitcoin justru mengalami penurunan sekitar 5,2% di periode yang sama.
Kondisi ini seolah menampik anggapan bahwa keduanya selalu menjadi “aset lindung nilai” atau safe haven yang bergerak seirama. Sentimen positif yang menopang harga emas saat ini, seperti ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar, belum berhasil mendorong harga Bitcoin. Padahal, baik emas maupun Bitcoin sering dianggap sebagai aset yang aman saat ketidakpastian ekonomi global meningkat.
Sentimen Makro Lebih Menguntungkan Emas
Yang menarik, faktor-faktor makroekonomi seperti penurunan suku bunga dan pelemahan nilai tukar dolar AS yang biasanya menjadi pendorong harga Bitcoin, saat ini justru lebih berpihak kepada emas.
Dalam dua minggu terakhir, harga emas naik signifikan. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tarif Amerika terhadap Swiss, serta harapan akan kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun, Bitcoin, yang sering dijuluki “emas digital,” tidak menunjukkan respons serupa. Seperti yang ditulis oleh CoinDesk, “Untuk alasan apa pun, perkembangan makro seperti suku bunga rendah dan dolar melemah yang mengangkat emas tidak berhasil menarik minat ke Bitcoin.”
Pasar kini menantikan bulan September, yang berpotensi menjadi bulan penentu. Keputusan baru dari The Fed, termasuk kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan, akan menjadi sorotan utama. Selain itu, Presiden AS, Donald Trump, diperkirakan akan menunjuk satu atau dua anggota baru di dewan The Fed dengan pandangan yang lebih dovish (pro-pelonggaran kebijakan moneter).
Empat bulan terakhir tahun 2025 tampaknya akan menjadi momen krusial. Jika pemangkasan suku bunga benar-benar dilakukan, ada kemungkinan investor akan kembali melirik aset berisiko seperti kripto. Namun, untuk saat ini, emas masih menjadi bintang utama. Momentum Bitcoin seolah tertahan oleh aksi jual yang berulang setiap kali harganya naik. (*/tur)



