EKSEKUTIFPEMKO PALANGKA RAYA

Karhutla Ancam Palangka Raya, Secara Masif Terjadi Sejak Juli 2025

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Kota Palangka Raya seiring masuknya musim kemarau.

Hingga awal Agustus 2025, tercatat sudah 73 kejadian karhutla yang tersebar di empat kecamatan dengan luas lahan terbakar mencapai 21,74 hektare.

Adapun data yang tercatat, Januari sebanyak 1 kejadian dengan luasan lahan terbakar 0,08 hektar. Februari sebanyak 1 kejadian dengan luasan lahan terbakar 0,28 hektare. Maret sebanyak 1 kejadian dengan luasan lahan terbakar 0,01 hektare. 

Kemudian April sebanyak 1 kejadian dengan luasan lahan terbakar 0,22 hektar. Mei sebanyak 3 kejadian dengan luasan lahan terbakar 1,32 hektare. Juni sebanyak 5 kejadian dengan luasan lahan terbakar 1,46 hektare.

Pada Juli, kejadian karhutla mulai meningkat cukup signifikan. Terjadi sebanyak 52 kejadian dengan total luasan lahan terbakar mencapai 17,59 hektare.

Sementara pada Agustus ini, pertanggal 4 Agustus 2025 tercata sudah 9 kejadian karhutla di Kota Palangka Raya dengan lahan yang terbakar mencapai 0,78 hektare.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, melalui Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Heri Fauzi mengatakan, saat ini pihaknya selalu bersiaga dalam menghadap bencana karhutla.

“Dari catatan kami, Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah paling terdampak dengan 45 kejadian. Disusul Kecamatan Sabangau 22 kejadian, Pahandut 3 kejadian, dan Bukit Batu 3 kejadian. Sementara Kecamatan Rakumpit masih nihil,” ujarnya.

Menurutnya, dengan tren karhutla yang terus meningkat, Pemko Palangka Raya telah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla sejak 15 Juni hingga 31 Agustus 2025. Seluruh personel BPBD bersama para relawan siaga penuh di lapangan untuk merespons cepat setiap potensi kebakaran.

Tak hanya itu, sebanyak enam kelurahan juga telah dibentuk pos lapangan (Poslap) yang berada di bawah koordinasi Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng. Pos ini berfungsi sebagai garda terdepan untuk deteksi dini dan penanganan cepat karhutla.

Namun, upaya pemadaman dihadapkan pada tantangan serius, terutama terkait ketersediaan air.

“Sumber air sangat terbatas saat kemarau. Kalau titik api berada jauh di tengah hutan, pemadaman bisa sangat sulit. Tapi kami terus berupaya maksimal dengan mengandalkan embung portable dan sumur bor portable,” jelasnya. (oiq)

EDITOR: TOPAN

Related Articles

Back to top button