TSAK Kalampangan: Garda Terdepan Perjuangan Warga Lawan Karhutla

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Saat kobaran api kembali mengancam kawasan gambut di Kalampangan, yang terbayang adalah asap pekat dan potensi bencana yang bisa meluas ke pemukiman. Namun, keberanian Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) Kalampangan membuktikan, semangat warga untuk melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jauh lebih besar dari rasa takut.
Mereka bergerak cepat, hanya dengan peralatan sederhana dan tenaga yang terbatas. Panas yang menyengat, asap yang membuat sesak napas, serta bahaya api yang menjalar tak membuat mereka mundur. Justru di titik itulah ketangguhan TSAK diuji, dan mereka berhasil memenangkan perjuangan. Api yang semula mengancam berhasil dijinakkan sebelum meluas.
Ketangguhan yang Lahir dari Akar Rumput
Banyak yang masih berpikir bahwa penanganan karhutla adalah urusan aparat pemerintah semata. Namun, kisah TSAK Kalampangan memberi pelajaran berharga: bencana hanya bisa dilawan jika masyarakat ikut turun tangan.
Di Kalampangan—wilayah yang sudah lama dikenal rawan karhutla—relawan TSAK bersama aparat kepolisian, TNI, dan warga bahu-membahu menahan api. Perjuangan ini tidak datang tiba-tiba. Selama ini mereka sudah terbiasa berpatroli, mengukur kelembapan gambut, memberi edukasi ke masyarakat, hingga mengingatkan soal larangan membakar lahan. Semua langkah kecil itu kini berbuah besar.
Perjuangan yang Menginspirasi
Keberhasilan memadamkan api bukan hanya soal teknis. Itu adalah wujud nyata dari keberanian, gotong royong, dan cinta tanah air. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatan, demi menyelamatkan lingkungan dan melindungi sesama warga.
Lurah Kalampangan, Yunita Martina, SH., M.A.P., tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Saya sangat mengapresiasi perjuangan TSAK Kalampangan. Mereka bukan hanya memadamkan api, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat bisa menjadi benteng pertama melawan bencana. Mereka pahlawan bagi lingkungan dan warga sekitar,” ujarnya.
Yunita menambahkan, pihak kelurahan akan terus memperjuangkan dukungan agar TSAK semakin kuat. Mulai dari pelatihan, koordinasi lintas instansi, hingga penyediaan fasilitas yang lebih memadai. “TSAK adalah ujung tombak kami. Karena itu, mereka harus mendapat dukungan penuh agar perjuangan ini tidak berhenti,” tegasnya.
Benteng yang Perlu Diperkuat
Meski tangguh, TSAK Kalampangan masih berjuang dalam keterbatasan. Peralatan yang seadanya dan minimnya pendanaan kerap menjadi penghalang. Namun, semangat mereka justru semakin membara.
Kisah ini menjadi pengingat bagi semua pihak: melawan karhutla tidak cukup dengan aturan dan larangan. Perlu dukungan nyata terhadap inisiatif masyarakat. TSAK adalah bukti bahwa kekuatan warga bisa menjadi benteng pertama, tetapi benteng itu hanya akan kokoh jika diperkuat bersama.
Teladan dari Kalampangan
Perjuangan TSAK Kalampangan bukan sekadar cerita lokal. Ia adalah simbol bagaimana keberhasilan melawan api lahir dari keberanian, gotong royong, dan tekad bersama menjaga bumi. Jika peran TSAK di semua kelurahan diperkuat, maka ancaman karhutla yang saban tahun menghantui Kalimantan Tengah bisa ditekan secara signifikan.
TSAK Kalampangan telah memberi teladan: bahwa kemenangan melawan api bukan hanya tentang alat, tetapi tentang komitmen dan perjuangan bersama. (pra)
EDITOR: TOPAN



