BeritaKESEHATANUtama

Saatnya Detoks Usai Pesta Lebaran, Kembalikan Pola Makan dan Atur Asupan Nutrisi

KALTENG.CO-Makan-makan sepuasnya di saat Lebaran memang sangat sulit dihindari. Aneka menu nan menggugah selera ini, baru dirasakan dampaknya kemudian, terutama bagi para orangtua atau mereka yang punya gejala diabetes, hipertensi maupun kolesterol.

Hal ini berpotensi mengakibatkan lupa diri saat menyantap menu itu setelah sebulan berpuasa. Setelah puas memanjakan selera, kini saatnya detoks dan menggembalikan pola makan dan mengatur asupan nutrisi.

Menu Lebaran seperti itu umumnya memiliki lemak dan kalori tinggi. Hal ini bisa membuat tubuh bekerja terlalu keras untuk mencernanya jika dikonsumsi terlalu banyak. Padahal, jika itu dilakukan, sebagian besar mungkin akan merasakan perut yang penuh, begah, dan mudah mengantuk.

Jadi, diperlukan adanya detoksifikasi atau penetralan racun dalam tubuh. Proses detoks ini dapat bekerja secara alami jika seseorang dapat menerapkan pola hidup sehat dan mengontrol pola makan pasca puasa.

Mohamad Hussen Anwar, siswa kelas 11 MAN Kota Magelang menuturkan, penerapan pola hidup sehat pasca berpuasa dinilai penting karena merupakan satu upaya untuk meminimalisasi adanya penyakit yang dapat menyerang tubuh. “Itu upaya yang bagus agar hidup kita selalu sehat dan terhindar dari penyakit,” ujarnya.

Untuk menjaga tubuh tetap sehat, dia biasanya menjaga pola makan. Menurutnya, pola makan yang berlebih sangat tidak baik untuk tubuh. Apalagi setelah puasa. Bisa dikatakan, perut akan ‘kaget’ untuk langsung menerima makanan dalam porsi besar dan berpotensi membuat perut terasa penuh, bahkan nyeri.

Menjaga pola makan sama artinya dengan menerapkan empat sehat lima sempurna. Terutama memperbanyak minum air putih karena mengandung segudang manfaat. Seperti melancarkan pencernaan dan penyerapan nutrisi dalam tubuh.

Dia menambahkan, sebaiknya mengurangi makanan yang berpotensi mengandung lemak tinggi. Seperti bakso, opor, gulai, dan menu lebaran lainnya.
Selain itu, kesehatan tubuh patut diperhatikan. Tidak hanya saat Lebaran saja, melainkan setiap harinya. Yakni dengan berolahraga tiap pagi atau sore. “Yang ringan-ringan saja, setidaknya tubuh dapat mengeluarkan keringat dan bergerak,” tambahnya.

Senada dengan Hussen, seorang praktisi dan akademisi, Edelweiss Premaulidiani menuturkan, penerapan hidup sehat menjadi hal yang disarankan untuk detoksifikasi tubuh. Seperti halnya saat puasa, seseorang disarankan mengonsumsi suplemen untuk menambah ketahanan tubuh.
Menurutnya, secara tidak langsung proses ini dapat mendorong serta membiasakan dirinya menerapkan gaya hidup sehat. Terutama bagi orang yang mobilitasnya tinggi dan sibuk.

Beberapa penerapan pola hidup sehat versi Edel, yakni dengan istirahat cukup guna memberikan waktu otak untuk menyuplai oksigen. Idealnya, orang akan beristirahat selama tujuh hingga delapan jam dalam sehari. Ketika begadang, nantinya akan lebih berisiko menderita berbagai macam penyakit. “Kadang paginya akan mengganggu konsentrasi ketika beraktivitas. Makanya, kita harus memiliki jam tidur yang cukup,” paparnya.

Kedua, banyak minum air putih. Air putih ini merupakan komponen penting dalam detoksifikasi tubuh. Dia menyebut, minum air putih sangat penting untuk mengatur suhu, bermanfaat bagi pencernaan, penyerapan nutrisi, dan bisa mengangkut limbah dalam tubuh yang dibuang lewat urin, bernafas, maupun berkeringat.

Ketika seseorang kurang minum air putih pun, tubuh akan terasa lemas. Hal ini dapat memicu timbulnya rasa sakit dalam tubuh. “Idealnya delapan gelas per hari. Ini bisa mencegah dehidrasi atau meningkatkan metabolisme dalam tubuh juga,” paparnya.

Tak kalah penting, salah satu upaya untuk detoks tubuh dengan mengonsumsi buah dan sayur. Menurut dia, keduanya mampu mengeluarkan racun di dalam usus, terutama usus besar. Asupan antioksidan ini juga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit yang dapat memengaruhi detoksifikasi.

Cara detoks alami lain yakni mengurangi konsumsi makanan tak sehat. Terlebih ketika banyak hidangan saat Lebaran yang menggiurkan dan sayang untuk dilewatkan, seperti makanan manis dan junkfood. Keduanya berisiko menimbulkan diabetes dan penyakit kronis lain, sehingga dapat menghalangi kemampuan tubuh dalam melakukan proses detoks. (Dikutip dari JawaPos.com/tur)

Related Articles

Back to top button