Membangun Koneksi Emosional Lewat Tradisi Imlek: Dari Makan Malam hingga Angpao

KALTENG.CO-Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan kemeriahan lampion merah, aroma kue keranjang yang manis, hingga tradisi bagi-bagi angpao. Namun, di balik kemeriahan visual tersebut, Imlek menyimpan nilai emosional yang sangat kuat, terutama dalam mempererat hubungan keluarga.
Tak sekadar ritual turun-temurun, tradisi Imlek terbukti berdampak positif terhadap kesehatan mental. Aktivitas bersama keluarga menjadi kunci utama agar perayaan terasa lebih hangat dan bermakna. Bahkan, penelitian dalam Journal of Family Psychology menyebutkan bahwa ritual keluarga dapat meningkatkan kedekatan emosional, menurunkan stres, serta memperkuat rasa aman psikologis.
Melansir dari laman YourTango, berikut adalah empat tradisi Tahun Baru Imlek yang tidak hanya seru, tetapi juga sarat makna untuk dilakukan bersama orang tercinta.
1. Makan Malam Reuni (Tuan Yuan Fan)
Makan malam di malam menjelang Imlek adalah momen paling krusial. Ini bukan sekadar tentang menyantap hidangan lezat, melainkan simbol keutuhan keluarga.
- Dampak Psikologis: Berkumpul di satu meja memberikan rasa memiliki (sense of belonging). Bagi anggota keluarga yang sibuk atau tinggal jauh, momen ini menjadi ruang untuk melepaskan beban pikiran dan merasakan dukungan sosial yang tulus.
- Makna Simbolis: Menu seperti ikan (simbol kelimpahan) dan mie panjang (simbol umur panjang) menjadi harapan kolektif yang memperkuat optimisme bersama.
2. Membersihkan Rumah dan Dekorasi Merah
Tradisi membersihkan rumah sebelum hari H bertujuan untuk “membuang nasib buruk” tahun lalu dan melapangkan jalan bagi keberuntungan baru.
- Kesehatan Mental: Secara psikologis, lingkungan yang bersih dan rapi terbukti dapat menurunkan hormon kortisol (stres). Aktivitas mendekorasi rumah dengan warna merah—yang melambangkan vitalitas dan keberanian—juga mampu meningkatkan suasana hati (mood booster) bagi seluruh penghuni rumah.
3. Tradisi Memberi Angpao
Pemberian amplop merah atau angpao dari orang tua kepada anak-anak atau yang belum menikah bukan hanya soal nominal uang.
- Nilai Emosional: Ini adalah bentuk transfer energi positif dan doa. Bagi pemberi, ada kepuasan batin dari berbagi (the joy of giving). Bagi penerima, angpao memberikan rasa aman dan perhatian dari orang tua, yang memperkuat fondasi kepercayaan dalam hubungan antar generasi.
4. Penghormatan kepada Leluhur
Imlek juga menjadi momen untuk mengenang jasa para leluhur. Tradisi ini mengajarkan nilai kerendahan hati dan rasa syukur atas akar keluarga.
- Perspektif Identitas: Mengetahui sejarah dan silsilah keluarga membantu seseorang memiliki identitas diri yang kuat. Hal ini sangat penting bagi kesehatan mental, terutama dalam menghadapi krisis identitas di dunia yang semakin modern.
Imlek sebagai Momen Self-Care Keluarga
Di berbagai negara, tradisi Imlek dirayakan dengan cara yang beragam. Namun, esensinya tetap sama: membangun koneksi emosional, menjaga nilai budaya, serta menumbuhkan rasa syukur.
Menjadikan Imlek sebagai momen untuk “pulang” secara emosional adalah bentuk investasi terbaik bagi kesehatan mental kita dan keharmonisan keluarga. (*/tur)



