Diare Penyakit Kedua Penyebab Kematian Balita

FOTO BERSAMA : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara H Siswandoyo foto bersama peserta usai pembukaan rapat evaluasi di lantai 1 aula setda, Senin (11/10).
FOTO BERSAMA : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara H Siswandoyo foto bersama peserta usai pembukaan rapat evaluasi di lantai 1 aula setda, Senin (11/10).

MUARA TEWEH,kalteng.co – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara H Siswandoyo mengatakan, pada tahun 2013 lalu sesuai dengan yang dipublikasi WHO, diare merupakan penyakit kedua yang menyebabkan kematian pada balita.

“Untuk itu, penyakit diare merupakan penyakit yang banyak menyerang anak-anak balita dan sudah membunuh sebanyak 760 ribu setiap tahunnya. Sebagian besar penyakit diare meninggal dikarenakan terjadinya dehidrasi atau kehilangan cairan dalam jumlah yang besar,” kata Siswandoyo saat membuka rapat evaluasi program lingkungan puskesmas untuk pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di lantai 1 aula setda, Senin (11/10).

Untuk itu, diare harus diwaspadai, sehingga ada langkah-langkah pencegahan melalui pelaksanaan rapat evaluasi ini, sehingga ada upaya penanganan ke depan serta tindak lanjut dari pertemuan ini.

Baca Juga:  Paguyuban Harus Memiliki Payung Hukum

Hal ini, lanjut dia, sesuai dengan RPJMN 2020-2024 dan rencana strategis Kementerian Kesehatan yang menyatakan, penyehatan lingkungan berperan serta dalam meningkatkan penyehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta mendorong ketercapaian sasaran program pembinaan kesehatan masyarakat.

“Untuk itu saya mengharapkan dengan pengelolaan program yang baik dan benar, koordinasi dan komunikasi yang dinamis secara lintas sektoral juga lintas program, kemampuan informasi dan edukasi yang baik serta didukung oleh norma standart prosedur kriteria (NSPK) sehingga dapat terwujud tujuan dan sasaran program yang ditetapkan,” ungkap mantan Sekretaris Dinas Kesehatan ini.

Baca Juga:  Paguyuban Harus Memiliki Payung Hukum

Ia mengatakan, kondisi kualitas lingkungan sampai tahun 2019 dapat digambarkan bahwa sebagian besar indikator kegiatan penyehatan lingkungan sudah tercapai terlihat pada jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).

Siswandoyo mengungkapkan, presentase Rumah Sakit yang melakukan pengolahan limbah medis sesuai dengan standart sebanyak 42,64 persen dari target 36 persen, presentase tempat-tempat umum (TTU) yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 62 persen dari target 58 persen, presentase tempat pengolahan makanan (TPM) yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 36,25 persen dari target 23 persen. (her/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *