BeritaHIBURANMETROPOLIS

Hallelujah: Bukan Lagu Rohani, Ini Makna Mendalam Lirik Karya Leonard Cohen

KALTENG.CO-Sebuah lagu dapat menjadi karya seni yang abadi ketika dinyanyikan oleh banyak orang, melampaui waktu dan tren. Apalagi jika lagu tersebut bisa diterima oleh berbagai kalangan, bahkan setelah penyanyi aslinya tiada.

Lagu-lagu semacam itu menjadi bagian dari memori kolektif kita, seolah-olah mereka selalu ada. Salah satu contoh paling nyata dari fenomena ini adalah “Hallelujah” yang ditulis oleh musisi legendaris Kanada, Leonard Cohen.

Lagu ini pertama kali dirilis pada album Various Positions (1984), dan pada awalnya tidak mendapatkan popularitas yang signifikan. Bahkan, perusahaan rekaman Cohen, Columbia Records, menolak merilis album tersebut di Amerika Serikat, menganggapnya tidak layak secara komersial.


Makna di Balik Lirik yang Puitis

“Hallelujah” sering kali disalahpahami sebagai lagu rohani karena judul dan referensi yang bertebaran di dalam liriknya. Kata “Hallelujah” sendiri berarti “puji Tuhan” dalam bahasa Ibrani. Selain itu, liriknya juga menyentuh kisah-kisah alkitabiah, seperti kisah Raja Daud dan Batsyeba, serta tokoh Alkitab lainnya.

Namun, lirik “Hallelujah” jauh lebih kompleks dari sekadar pujian religius. Lagu ini adalah refleksi mendalam tentang kerumitan cinta, kegagalan, kehilangan, dan pencarian makna. Cohen menggunakan alegori religius untuk menggambarkan perjuangan manusiawi yang universal.

Ia menulis dari sudut pandang seorang individu yang menghadapi patah hati, keraguan, dan ketidakpastian. Lirik seperti “Love is not a victory march, it’s a cold and it’s a broken Hallelujah” (“Cinta bukanlah pawai kemenangan, melainkan Hallelujah yang dingin dan hancur”) menunjukkan bahwa makna “Hallelujah” dalam lagu ini bukan tentang sukacita semata, tetapi juga tentang penerimaan atas kepedihan dan kekurangan.


Kebangkitan “Hallelujah” Berkat Penyanyi Lain

Meskipun Leonard Cohen adalah pencipta lagu ini, popularitasnya meledak justru berkat versi daur ulang (cover) dari musisi lain. Salah satu versi paling penting yang mengubah takdir lagu ini adalah oleh Jeff Buckley.

Pada tahun 1994, Jeff Buckley merekam versi “Hallelujah” yang sangat emosional dan minimalis untuk albumnya, Grace. Versi Buckley inilah yang memperkenalkan lagu ini kepada generasi baru dan menjadikannya sebuah lagu cult yang sangat dipuja. Interpretasi Buckley sangat kental dengan nuansa melankolis dan kerinduan, yang resonate dengan banyak pendengar.

Selain Jeff Buckley, banyak penyanyi lain juga telah meng-cover lagu ini, termasuk:

  • John Cale: Versi yang direkam oleh Cale pada tahun 1991 inilah yang menginspirasi Jeff Buckley.
  • Rufus Wainwright: Versi yang sangat terkenal dari soundtrack film animasi Shrek (2001). Versi ini membuat “Hallelujah” semakin dikenal oleh khalayak luas.
  • K.D. Lang: Versinya yang kuat dan penuh emosi sering dibawakan dalam acara-acara penting, seperti Olimpiade Musim Dingin 2010.

Mengapa “Hallelujah” Menjadi Lagu Abadi?

Ada beberapa alasan mengapa lagu ini terus hidup dan dicintai oleh banyak orang:

  1. Lirik yang Kaya Makna: Liriknya yang puitis dan ambigu memungkinkan setiap pendengar untuk menginterpretasikannya sesuai pengalaman pribadi mereka. Ini membuat lagu terasa sangat personal.
  2. Melodi yang Indah: Melodi lagu ini sederhana namun sangat kuat dan mudah dikenali. Melodi ini mudah diiringi dengan gitar atau piano, sehingga banyak musisi amatir maupun profesional dapat membawakannya.
  3. Keragaman Interpretasi: Berkat berbagai versi dari penyanyi lain, “Hallelujah” menunjukkan fleksibilitasnya. Setiap versi memiliki nuansa yang berbeda, dari yang penuh semangat hingga yang penuh kesedihan, membuktikan bahwa lagu ini adalah kanvas yang sempurna untuk emosi manusia.

“Hallelujah” adalah bukti nyata bahwa sebuah karya seni sejati tidak selalu menemukan kejayaannya dalam sekejap. Terkadang, ia membutuhkan waktu, interpretasi baru, dan perjalanan panjang untuk akhirnya menemukan tempat di hati banyak orang.

Ini adalah lagu tentang kerumitan hidup, dan ironisnya, ia mencapai keabadian berkat kerumitan yang sama. (*/tur)

Related Articles

Back to top button