OPINIPENDIDIKAN

Ki Hajar Dewantara dan Relevansi Pendidikan Hari Ini

“Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya” -Ki Hadjar Dewantara

PENDIDIKAN mengacu pada disiplin yang berkaitan dengan metode belajar mengajar di sekolah atau lingkungan seperti sekolah, sebagai lawan dari berbagai sarana sosialisasi nonformal dan informal.

Pendidikan membantu kita mengembangkan keterampilan penting seperti pengambilan keputusan, ketangkasan mental, pemecahan masalah, dan pemikiran logis.

Orang-orang menghadapi masalah dalam kehidupan profesional maupun pribadi mereka. Dalam situasi seperti itu, kemampuan mereka untuk membuat keputusan yang rasional dan terinformasi berasal dari seberapa terdidik dan sadar diri mereka.

Pendidikan adalah suatu hal yang krusial bagi bangsa-bangsa di dunia, menelisik pada sejarah kita dapat menemui sejarah dari pendidikan yang mana Sistem pendidikan pertama diciptakan pada dinasti Xia (2076–1600 SM).

Selama dinasti Xia, pemerintah membangun sekolah untuk mendidik bangsawan tentang ritual, sastra, dan memanah (penting untuk bangsawan Tiongkok kuno).

Selama dinasti Shang (1600 SM hingga 1046 SM), orang normal (petani, pekerja, dll.), di indonesia sendiri, Sistem pendidikan terstruktur paling awal di Indonesia diperkenalkan bersamaan dengan penyebaran Islam ke wilayah tersebut dari abad ke-13.

Para cendekiawan Islam mendirikan pusat-pusat seperti pesantren yang disebut pesantren sebagai lembaga studi agama (Frederick & Worden, 2011, hlm. 120).

Meskipun tujuan utamanya adalah untuk mendidik dan melatih individu yang ingin mengabdikan diri pada studi agama, dan karena itu tidak menawarkan pendidikan untuk semua orang, struktur awal ini terus ada hingga saat ini.

Kita perlu memaklumi bahwa pendidikan kita hari ini masih lemah, Alasannya menarik dan terkenal: kemiskinan, eksklusi sosial, kesenjangan sosial-ekonomi, kesenjangan perkotaan-pedesaan, dan kurangnya program pendidikan yang memadai.

Beberapa tantangan dalam dunia pendidikan hari ini terkhususnya di indonesia, sebab Pendidikan bergerak ke arah pengembangan pendekatan pembelajaran yang penuh akal dan kreativitas, Sistem pendidikan tradisional didasarkan pada guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

Tetapi di dunia modern, informasi sudah tersedia secara online. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran cara belajar siswa. Mereka sekarang lebih cenderung banyak akal dan mencari informasi sendiri.

Salah satu pr besar bagi pendidikan adalah bahwa Lembaga pendidikan selalu fokus pada penyelesaian kurikulum daripada mempersiapkan siswa untuk masa depan.

Sebagian besar kurikulum yang dirancang untuk siswa tidak pernah memungkinkan siswa untuk fokus pada masa depan. Ini adalah salah satu tantangan terbesar bagi sistem sekolah. Pendidik dan pimpinan sekolah perlu merancang kurikulum sesuai dengan tren modern.

Pertanyaan hari ini apakah kita benar benar merasakan arti dari pendidikan yang sebenarnya, jika kita menelisik lebih jauh pemikiran pendidikan Indonesia berasal dari Ki Hajar Dewantara, dimana pendidikan haruslah memerdekaan siswanya, hal  ini adalah aspek moralitas bahwa kita memiliki hak untuk menentukan apa yang kita inginkan di masa yang akan datang, sayang nya pendidikan hari ini jauh dari hal tersebut, upaya pengkotak-kotakan dalam pendidikan masih juga terasa dalam tubuh pendidikan kita, belum lagi teacher center yang juga masih lekat kita rasakan sampai hari ini.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana kita kembali ke pendidikan yang sebenar-benarnya sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara ? menurut hemat penulis perlu adanya reformasi di dalam tubuh pendidikan itu sendiri, proses yang berat ini perlu dilewati, sebab pendidikan adalah suatu senjata yang cukup pamungkas bagi negara dalam mempersiapkan penerusnya di masa yang akan datang, dan juga yang tentu memiliki kredibilitas yang memimpin dalam menghadapi tantangan di kedepan harinya.

Akhir kata, dalam menghadapi kemajuan zaman yang semakin cepat, tuntutan pada tenaga pendidik pula semakin besar, namun jika kita benar benar memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara agar proses pembelajaran terwujud, kita perlu benar benar melayani siswa dengan penuh kesadaran bahwa siswa adalah sebuah kertas yang sudah bertuliskan samar, dengan membantu menebalkan tulisan tentang hal-hal baik sehingga yang lebih dominan muncul. (*)

*)Penulis: Mahasiswa IAIN Palangka Raya, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Related Articles

Back to top button