Kota Siaga Banjir, Tiga Daerah Masih Tanggap Darurat

Banjir Bandang Terjang Kabupaten Berau

PALANGKA RAYA,kalteng.co-Banjir masih melanda beberapa wilayah di Kalteng. Hingga Selasa malam (21/9), Kota Palangka Raya dan empat daerah lainnya berstatus siaga darurat banjir, sedangkan tiga kabupaten masih tanggap darurat banjir. Meski demikian, secara umum banjir di Bumi Tambun Bungai sudah mengalami penurunan. Berdasarkan data yang dihimpun, ada lima daerah yang sudah menyatakan status siaga darurat bencana banjir, yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Seruyan, Pulang Pisau, Murung Raya, dan Barito Timur.

Sementara tiga daerah dengan status tanggal darurat bencana banjir meliputi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Katingan, dan Gunung Mas (Gumas). “Ini perkembangan kondisi banjir di Bumi Tambun Bungai hingga 21 September 2021. Namun secara umum banjir di Kalteng sudah mengalami penurunan,” tutur Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah Erlin Hardi, kemarin (22/9).

Dikatakan Erlin, ada penurunan di daerah hulu sungai di beberapa wilayah di Kalteng. Oleh sebab itu, pihaknya mengingatkan masyarakat yang tinggal di wilayah hilir sungai agar selalu siaga evakuasi dan mengungsi jika sewaktu-waktu air mulai naik. “Selain itu ada upaya yang dilakukan pemerintah bekerja sama dengan pihak terkait untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak bencana banjir, termasuk layanan kesehatan. Pemerintah kabupaten/kota diimbau untuk memperhatikan masyarakat di wilayah masingmasing,” ucapnya.

Baca Juga:  Wujudkan Kota Layak Anak Harus Ada Program Peduli

Mengenai bencana banjir di Kota Palangka Raya, terang Erlin, total ada 4 kecamatan, 13 desa/kelurahan, 3.856 kepala keluarga (KK), dan 9.907 jiwa yang terdampak. Kondisi di wilayah Kelurahan Banturung, Tumbang Tahai, Tangkiling, Sei Gohong, dan Marang tinggi muka air sudah turun sekitar 10 cm. Kemudian di wilayah Mendawai, Pelatuk, Anoi, dan di bawah Jalan S Parman, tinggi air masih naik. Rumah yang terendam air bertambah jumlahnya.

“Untuk daerah Mendawai dan Anoi, yang mengungsi ke BPBD kota berjumlah 17 KK, lansia 1 orang, dan bayi 1 orang, sedangkan yang masih bertahan di pengungsian hanya 5 KK, yang lainnya pindah ke tempat keluarga,” bebernya.

Kemudian di Kelurahan Kameloh Baru, data per 20 September, jumlah yang terdampak bencana banjir kurang lebih 229 KK dan 800 jiwa. “Tim BPBD Kota Palangka Raya melakukan pemantauan dan pendataan di lokasi terdampak bencana banjir. Juga dibangun dapur umum dan pendistribusian makanan siap saji. Juga disediakan posko kesehatan, posko pengungsian, dan posko relawan. Ada pendistribusian air bersih, penyaluran bantuan sembako, serta evakuasi terhadap warga yang terdampak,” ujarnya.

Baca Juga:  Dorong Inovasi, Minta Layanan Samsat ke Pelosok

Di daerah lain, yakni Kabupaten Katingan, tercatat ada 12 kecamatan, 123 desa, 27.290 KK, 76.966 jiwa, 1.047 pengungsi, dan 17.745 rumah yang terdampak. “Sejauh ini empat kecamatan masih terendam banjir, mencakup Katingan Hilir, Tasik Payawan, Kamipang, dan Mendawai,” lanjut Erlin. Akses menuju wilayah-wilayah terdampak banjir yang tak bisa dilakukan melalui darat, dilanjutkan dengan transportasi sungai.

Shelter atau tempat pengungsian sudah tidak ada lagi. Dapur umum yang masih ada kemungkinan di Kecamatan Mendawai Dapur umum yang didirikan masih difungsikan untuk penyediaan makanan bagi para korban yang masih terdampak.

Pendistribusian air bersih dan makanan siap saji, serta penyaluran bantuan paket sembako untuk warga terdampak masih terus dilakukan. “BPBD terus melakukan pemantauan dan pendataan di lokasi terdampak bencana, termasuk penyediaan bantuan sembako, material kayu, paku, dan lainnya yang dibutuhkan warga,” tambahnya lagi.

Erlin juga berharap kerja sama semua pihak terus berjalan, agar penanganan bencana banjir bisa maksimal dan tidak mengakibatkan kerugian yang lebih besar untuk masyarakat, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. Pihaknya tetap mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama bencana banjir masih terjadi. (nue/ce/ala)