PPAKPK Gelar Bimtek Pemanfaatan Konseling pada Guru SD

PALANGKA RAYA – Pusat Pelayanan Asesmen Kompetensi dan Pengembangan Karir (PPAKPK) Universitas Palangka Raya (UPR) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek), dengan tema ‘Pemanfaatan Konseling Pada Guru SD di Kalimantan Tengah’, Senin (26/10).
Bimtek yang diadakan secara online dan pendanaannya dibebankan dari Sumber Dana DIPA UPR Tahun 2020 ini, diikuti 25 peserta dan menghadirkan 6 narasumber. Yaitu Dr. Berkat M.Si, Bhayu Rhama, ST, MBA, Ph.D, Wahyuni Christiany Martono, M.Psi, Psikolog, Elisabeth Fransisca Saragi Sitio, M.Psi, Psikolog, Ferry Setiawan, SH, MSP, dan Ahmad Saefulloh, SPd I, M.Pd.
Bimtek diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Dr. Berkat, M.Si. Dilanjutkan pemaparan oleh Bhayu Rhama, ST, MBA, Ph.D. Saat itu Bhayu mengatakan, konseling menurut Blum dan Balinsky adalah proses bantuan untuk menyelesaikan masalah-masalah pribadi.
“Sedangkan bimbingan menurut Jones dan kawan-kawan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain (siswa) agar penerima bantuan (siswa) dapat berkembang mandiri dan mampu bertanggung jawab pada dirinya sendiri,” kata dia, kemarin.
Sementara itu, Wahyuni Christiany Martono menyebut, peran guru dalam bimbingan yaitu guru dapat menjadi pengamat yang jeli dan bukan sebagai orang asing bagi siswanya. Hal ini merupakan kesempatan baik dalam membina hubungan saling percaya dalam konseling.
Namun demikian, tambah dia, bimbingan yang diberikan guru tidak bersifat terapeutik hanya menawarkan kesediaan membantu siswa, untuk menyesuaikan diri dan menyesuaikan dengan lingkungan secara efektif.
“Sehingga bila siswa tidak dapat mendekati guru atau bila masalahnya membutuhkan teknik di luar jangkauan guru, siswa sebaiknya dikirim ke tenaga ahli (konselor professional, Psikolog). Seberapa jauh guru dapat menangani siswanya, tergantung kesanggupan dan kemampuan guru,” terang Wahyuni.
Elisabeth menambahkan, konseling ada dua jenis. Konseling individu dan kelompok. Konseling individu merupakan layanan seorang guru bimbingan dan konseling terhadap siswa dalam upaya pengentasan masalah pribadi siswa.
“Sedangkan konseling kelompok adalah layanan konseling yang dilakukan dalam kelompok, agar suasana hangat dan terbuka serta penuh keakraban, dan fokus membantu anggota di dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah,” jelas dia.
Di tempat yang sama, Ferry Setiawan menjelaskan tujuan layanan konseling dalam kelompok preventif dan promotif. Untuk mencegah penyimpangan perilaku dan untuk pengembangan potensi, memotivasi belajar dan membantu peserta didik dalam memahami, menilai dan mengembangkan potensi, kecakapan, pengembangan bakat dan minat.
“Serta berperilaku baik terhadap teman sebaya, dalam keluarga serta lingkungan sosial,” tutur Ferry.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pemutaran video tutorial mengenai konseling online dan profil web PPAKPK UPR http://asesmenupr.id oleh Saefulloh. (kom/uut/sir/aza)



