METROPOLIS

Putar Film 3D Tentang Otak Manusia

“Luaskan ilmu dengan bersekolah setinggi tingginya. Agar Kalimatan Tengah tumbuh dan semakin unggul dalam pembangunan.
Tindakan bedah saraf yang ditampilkan dalam film ini merupakan tindakan yang sulit dan membutuhkan peralatan yang canggih. Peralatan bisa diadakan secara bertahap, tetapi tanpa ada manusia yang mampu mengerjakan, maka peralatan ini menjadi tidak ada fungsinya,” ujar Prof. Dr. Dr. dr. Eka Wahjoepramono, Sp.BS(K), Ph.D saat menyampaikan narasi saat pemutaran film, Jumat (14/01/2022) di kota Palangkaraya.

Ditambahkan Eka, layanan bedah saraf sudah tersedia di Siloam Hospitals Palangka Raya sejak 1,5 tahun yang lalu. Keberadaan layanan bedah saraf di Siloam Hospitals Palangka Raya memungkinkan untuk mengerjakan kasus-kasus yang sebelumnya terpaksa harus dirujuk.

Salah satu tim bedah saraf Siloam Hospitals, dr. Michael Lumintang Loe, M.Si., M.Ked. (Neruosurg), Sp.BS, FINPS yang berpraktik di Siloam Hospitals Palangka Raya, mengatakan bahwa sejak layanan bedah saraf tersedia di Siloam Hospitals Palangka Raya, beberapa layanan diagnostik juga mulai dikembangkan. Salah satunya adalah CT Angiografi Brain yang sebelumnya masih relatif terbatas di Palangka Raya.

Bertepatan dengan acara pemutaran film 3D, Siloam Hospitals Palangka Raya juga berhasil mengerjakan tindakan pengangkatan tumor otak secara endoskopik melalui hidung (trans-sphenoid) untuk pertama kalinya.

Film 3D dengan tema “The Greatness of Human Brain Determines Nation’s Civilization and Its Potential Catastrophe” ini berdurasi 70 menit. Pada akhir sesi film diberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk bisa bertanya langsung kepada narasumber. Film ini memberikan edukasi yang begitu baik, namun bisa dipahami oleh orang awam karena cara penyampaian yang sederhana.

Diharapkan, pemutaran film turut membangun semangat kerja sama antara Pemerintah Daerah, swasta, dan putra putri Kalimantan Tengah guna saling mendukung memajukan bidang kesehatan di Kalimantan Tengah melalui penyediaan layanan yang selama ini terpaksa harus dirujuk ke luar wilayah, baik karena keterbatasan kompetensi maupun karena keterbatasan fasilitas.(hms/nue)

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Back to top button