Warga Desa Parahangan Bertekad Menjaga Hutan Tetap Kekal

Desa Parahangan
BIBIT TANAMAN: Ratusan ribu bibit tanaman terhampar sebelum dibagikan kepada kelompok tani Desa Parahangan, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, akhir pekan lalu.

Obrolan terkait potensi dan hutan desa makin menarik. Selain Agus, turut dalam obrolan Siswo dan Dandi. Kami duduk di bangku kayu bambu. Ada meja yang masih terasa lembab. Lapisan daun-daun melindungi kami terik mentari yang sudah tak tertutup mendung.

Dandi yang merupakan penyuluh kehutanan menambahkan, keanekaragaman flora dan fauna di hutan desa patut dijaga. Ada 15.887 hektare hutan desa di Kecamatan Kahayan Tengah yang sejak 2019 sudah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Ancaman nyata sudah pasti ada. Yang ada di depan mata adalah kebakaran dan pembalakan liar. Dua problem itu menjadi perhatian utama. Langkah yang dilakukan bersama pihak desa adalah rutin melakukan patroli.

“Kami bersama Borneo Nature Foundation (BNF) Indonesia melakukan pendampingan setelah izin hutan desa keluar. Kami sudah berencana merangkul pemuda-pemuda di tujuh desa untuk dilatih berpatroli, mencari informasi, serta mengamati hasil-hasil temuan,” kata Dandi.

Selain itu, pihaknya sudah memprogramkan untuk menanam tanaman pangan yang menghasilkan. Masih banyak lahan kosong bekas kebakaran hutan yang belum produktif. Luasnya ratusan hektare.

Baca Juga:  Hindari Perpecahan Dayak Kalteng Dengan Empat Pilar Huma Betang

Para pemuda didorong agar mau bergelut dengan cangkul.

“Saat ini, masyarakat masih condong tergiur mencari emas secara tradisional. Nah, itu kan makin lama makin habis lokasinya. Kami coba ubah pola pikir mereka. Jika bertani atau berkebun, kan bisa menopang pangan warga, dan syukur-syukur bisa dijual ke kota,” sebutnya.

Bersamaan dengan itu, datanglah nampan berisi ubi, jagung, dan pisang rebus. Ditambah lagi minuman. “Ini hasil dari kebun warga di sini,” ucap remaja putri yang mengantar kudapan itu.

“Pas benar, mengganjal perut,” celetuk semua orang yang ada di depan meja.

Camat Kahayan Tengah Siswo yang duduk di samping Dandi menyimak betul perencanaan yang disampaikan. Sambil mengunyah kudapan. Kacamata hitam digeser ke atas. Tepat di bagian depan topi warna hitam. Menutupi tulisan merek produk ternama itu. “Tak tutupi saja, nanti dikira pamer,” kelakarnya.

Baca Juga:  Aksi Tolak TBBR di Kalteng, Polisi Kerahkan Ratusan Personel

Mantan guru sekolah dasar yang masuk ke Kecamatan Kahayan Tengah tahun 1994 itu melanjutkan obrolan. Ia selaku kepanjangan tangan dari Pemkab Pulang Pisau sangat mendukung inovasi-inovasi di desa. Baik wisata, pelestarian hutan desa, sampai kepentingan pangan. Apalagi melibatkan kawula muda. “Susah cari anak muda untuk kumpul-kumpul sekadar menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk membuat terobosan,” ujarnya.

Apa sih potensi yang ada di Kecamatan Kahayan Tengah? Pria yang meninggalkan tanah kelahirannya Lamongan sejak berusia 7 tahun itu menyebut banyak. Ada wisata budaya, religi, potensi perkebunan, dan kerajinan tangan. “Yang terkenal kan banjirnya saja. Padahal, lokasi banjir hanya ada di Desa Penda Barania. Desa yang lain tidak ada banjir,” ungkapnya.