BeritaFAMILYKESEHATANMETROPOLISRAMADAN

Salah Kaprah Jargon “Berbuka Puasa dengan yang Manis”, Ternyata Ini Menu Takjil Rasulullah SAW

KALTENG.CO-Selama puluhan tahun, jargon “Berbukalah dengan yang Manis” telah mendarah daging dalam tradisi masyarakat Indonesia saat menyambut bulan Ramadhan. Namun, tahukah Anda bahwa kalimat populer tersebut ternyata tidak memiliki dasar hadis dan bahkan kurang tepat secara tinjauan sains?

Baru-baru ini, Profesor Agustino Zulys, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, meluruskan anggapan keliru yang selama ini dianggap sebagai sunah Nabi Muhammad SAW tersebut.

Mitos Sains dan Hadis di Balik Makanan Manis

Dalam sebuah video edukasi yang diunggahnya, Prof. Zulys menegaskan bahwa tidak ada dalil sahih yang menyebutkan perintah eksplisit untuk berbuka dengan makanan manis. Pemahaman ini sering kali “dipaksakan” dengan alasan ilmiah bahwa gula dapat mengembalikan energi secara instan.

“Berbuka dengan yang manis itu tidak ada dalilnya. Katanya secara sains yang manis menjadi energi yang mudah diserap, tapi hal ini tidak sepenuhnya benar,” tegas Prof. Zulys, dikutip Rabu (25/2/2026).

Secara kimiawi, tubuh memang membutuhkan asupan energi setelah belasan jam berpuasa. Namun, Prof. Zulys mengingatkan bahwa energi tidak selalu sama dengan rasa manis.

Indeks Glikemik: Kunci Energi Stabil vs Sugar Crash

Menurut sang profesor, yang paling memengaruhi pemulihan energi tubuh adalah Indeks Glikemik (IG), bukan sekadar indra perasa yang mengecap rasa manis. Beliau membagi kategori manis menjadi dua sisi:

  1. Manis Sehat (IG Moderat): Kurma, madu, dan gula aren. Bahan-bahan ini menaikkan kadar gula darah secara stabil dan bertahap.

  2. Manis Berisiko (IG Tinggi): Gula pasir, sukrosa, dan sirup glukosa. Konsumsi ini secara berlebihan saat perut kosong dapat memicu lonjakan gula darah yang drastis.

Lebih berbahaya lagi adalah fenomena sugar crash. Jika gula darah naik secara “ugal-ugalan” akibat asupan manis yang salah, tubuh justru akan merasa lemas dan tidak bertenaga sesaat setelah makan.

Beliau juga menyoroti penggunaan pemanis buatan seperti siklamat atau sukralosa. “Pemanis buatan hampir tidak memberikan energi karena indeks glikemiknya mendekati nol. Jadi, kalau tujuannya memulihkan energi, itu bukan solusi,” tambahnya.

Apa yang Sebenarnya Dicontohkan Rasulullah SAW?

Senada dengan penjelasan ilmiah tersebut, NU Online juga menegaskan bahwa ungkapan “Berbukalah dengan yang manis” tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis maupun fikih. Sangat disayangkan jika ungkapan ini disebarluaskan oleh tokoh publik sebagai sebuah hadis tanpa rujukan kuat.

Berdasarkan riwayat sahih, Rasulullah SAW memberikan contoh berbuka dengan pola yang sangat spesifik, sebagaimana dalam hadis berikut:

“Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa kurma matang dan basah (ruthob) sebelum melaksanakan shalat. Kalau tidak ada, maka beliau berbuka dengan kurma kering (tamr). Bila tidak ada kurma kering, beliau meminum beberapa teguk air.” (HR Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi).

Mengapa Kurma dan Air?

Secara medis, kurma adalah paket lengkap karena mengandung:

  • Gula Alami: Memberikan energi tanpa lonjakan ekstrem.

  • Serat Tinggi: Menjaga kesehatan pencernaan yang baru “bangun” dari istirahat panjang.

  • Mineral: Membantu hidrasi dan fungsi sel tubuh.

Bijak Berbuka, Ikuti Sunah yang Benar

Berbuka dengan kolak, sirop, atau teh manis memang menggiurkan, namun itu hanyalah tradisi budaya, bukan kewajiban agama (sunah). Yang dianjurkan secara syariat dan kesehatan adalah mengikuti contoh Rasulullah SAW: mulailah dengan kurma atau air putih.

Pesan utamanya bukanlah melarang rasa manis, melainkan memperhatikan dosis, frekuensi, dan pola makan yang seimbang agar ibadah puasa tidak justru berdampak buruk pada kesehatan. (*/tur)

https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Related Articles

Back to top button