BeritaHukum Dan KriminalPeristiwa

Ada-ada Saja… Sunat Leser, “Burung” si Kecil Nyaris Terpotong Habis: Publik Geram!

KALTENG.CO-Dunia maya kembali dihebohkan dengan kasus dugaan malapraktik yang sangat memprihatinkan. Kali ini, sorotan tertuju pada seorang perawat di Kayu Aro, Kerinci, Jambi, yang diduga melakukan kesalahan fatal saat prosedur sunat laser, menyebabkan bagian vital seorang anak laki-laki nyaris terpotong habis.

Insiden tragis ini pertama kali viral setelah diunggah oleh akun Facebook Maysaroh Al Faalih, memicu gelombang kemarahan dan keprihatinan di kalangan warganet.

Kronologi Singkat dan Kemarahan Warganet

Unggahan Maysaroh Al Faalih dengan cepat menyebar, menunjukkan betapa parahnya luka yang dialami sang anak. “MasyaAllah sepanjang ini loh wee yang dipotong ama (oleh) oknum perawat itu,” tulis Maysaroh, seperti dikutip dari unggahan ulang di Instagram @drg.mirza pada Kamis (29/5/2025).

Maysaroh tak hanya menyoroti kerusakan fisik yang dialami korban, tetapi juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap respons yang diterima keluarga korban. Meskipun keluarga hanya diberikan uang transportasi sebesar Rp 500 ribu, kerugian yang ditimbulkan, baik secara fisik maupun psikologis, jelas jauh melebihi nominal tersebut.

Isu Izin Praktik dan “No Viral No Justice”

Yang semakin memperparah kasus ini adalah dugaan bahwa perawat yang bersangkutan menjalankan praktik tanpa izin resmi. Hal ini menambah daftar panjang kasus dugaan malapraktik yang kerap terjadi di Indonesia, terutama yang melibatkan oknum tanpa kualifikasi atau izin yang jelas.

Maysaroh juga secara terang-terangan menyoroti fenomena “no viral no justice” yang marak di Indonesia. “Hukum Indonesia kalau enggak diviralkan ya anyep,” tegasnya, menyiratkan bahwa banyak kasus serupa yang tidak mendapat perhatian atau penyelesaian hukum jika tidak menjadi viral di media sosial.

Pernyataan ini tentu saja menjadi tamparan keras bagi penegakan hukum di Indonesia, sekaligus mengingatkan masyarakat akan kekuatan media sosial dalam mencari keadilan.

Dampak Trauma dan Masa Depan Anak Korban

Beyond the physical injury, Maysaroh mengungkapkan kekhawatiran mendalamnya terhadap trauma, masa depan, dan kesehatan mental sang anak yang mungkin akan terdampak seumur hidup akibat kejadian ini.

Insiden semacam ini tidak hanya menyisakan bekas luka fisik, tetapi juga luka batin yang bisa mengganggu perkembangan psikologis anak dalam jangka panjang.

Dalam unggahannya, Maysaroh turut menyampaikan dukungan moril bagi ibu korban, berharap agar keluarga diberikan kekuatan untuk terus mencari keadilan. Ia juga menegaskan bahwa unggahannya bukan bertujuan merendahkan profesi perawat secara umum, melainkan kritik keras terhadap tindakan teledor oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Belum Ada Klarifikasi Resmi, Kasus Diduga Terjadi Sejak 2024

Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait, baik dari pihak perawat, instansi kesehatan setempat, maupun aparat penegak hukum. Namun, dari beberapa unggahan lain di media sosial, disebutkan bahwa kasus ini sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2024.

Jika informasi ini benar, pertanyaan besar muncul mengapa kasus ini baru mencuat dan menjadi viral sekarang, serta mengapa belum ada tindak lanjut yang signifikan sebelumnya.

Kasus dugaan malapraktik ini sekali lagi mengingatkan kita akan pentingnya memilih tenaga medis atau praktisi yang berlisensi dan terpercaya. Masyarakat diimbau untuk selalu memastikan legalitas praktik serta rekam jejak penyedia layanan kesehatan demi menghindari kejadian serupa di kemudian hari.

Kita berharap pihak berwenang segera melakukan investigasi menyeluruh dan menindak tegas oknum yang terbukti bersalah demi keadilan bagi korban dan mencegah terulangnya insiden tragis ini. (*/tur)

Related Articles

Back to top button