Indonesia dalam Bahaya? 3 Dampak Ngeri Perang Timur Tengah yang Harus Diwaspadai Masyarakat

KALTENG.CO-Eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di Timur Tengah kini tidak lagi menjadi isu regional semata. Para pakar memperingatkan bahwa percikan api di wilayah tersebut berdampak langsung pada kondisi keamanan, ekonomi, dan kohesi sosial di Indonesia.
Mulai dari kerentanan pasokan BBM hingga potensi polarisasi ideologi yang ekstrem, Indonesia kini berada dalam posisi yang harus waspada.
Ketahanan Energi Nasional dalam Zona Merah
Dosen Hubungan Internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah, menyoroti ketergantungan kronis Indonesia terhadap impor minyak mentah. Dalam sebuah diskusi virtual pada Minggu (8/3/2026), ia mengungkapkan fakta mengkhawatirkan mengenai napas energi Indonesia.
“Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak masih sangat tinggi, sementara ketahanan cadangan energi nasional kita hanya berkisar 20 hari,” ujar Tia.
Kondisi ini memicu efek domino pada sektor keamanan. Menurutnya, potensi kenaikan harga energi dapat memicu kerawanan sosial. Saat ini, TNI dikabarkan telah menetapkan status Siaga Tiga guna mengantisipasi kemungkinan gelombang demonstrasi massal sebagai respons atas situasi ekonomi yang tidak menentu.
Perang Asimetris dan Tantangan Sektor Usaha Mikro
Senada dengan hal tersebut, Dosen Ketahanan Nasional SPPB Universitas Indonesia (UI), M. Syaroni Rofii, menilai bahwa ketegangan makro di Timur Tengah merupakan bentuk perang asimetris. Dampaknya akan sangat terasa pada distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional.
Jika pasokan BBM terganggu atau harganya melonjak tajam, sektor usaha mikro akan menjadi pihak yang paling terdampak secara langsung. Di tengah melemahnya peran PBB serta sikap China dan Rusia yang cenderung pasif (memantau dari kejauhan), Syaroni menyarankan langkah berani bagi diplomasi Indonesia.
“Indonesia disarankan mengambil jalur shuttle diplomacy untuk tampil sebagai aktor penengah strategis di kancah global,” imbuhnya.
Ancaman di Ruang Digital: Radikalisme dan Lone Actor
Selain ancaman fisik dan ekonomi, konflik Timur Tengah telah bergeser ke ruang digital yang memicu polarisasi tajam di tengah masyarakat Indonesia. Pengamat Terorisme M. Syauqillah mencatat adanya pergeseran bahaya yang signifikan di media sosial.
Sentimen publik saat ini terpecah ke dalam berbagai narasi yang provokatif, di antaranya:
Ajakan jihad dan khilafah.
Narasi isu akhir zaman.
Polarisasi antara kelompok pro dan anti-Syiah.
Syauqillah memperingatkan bahwa eksploitasi sentimen ini oleh kelompok teror dapat melahirkan fenomena lone actor atau pelaku teror tunggal. Mereka adalah individu yang teradikalisasi secara mandiri melalui propaganda ideologis di internet tanpa harus bergabung dengan jaringan sel teror konvensional.
Strategi Mitigasi Komprehensif
Menghadapi ancaman yang berlapis ini, pemerintah dan instansi terkait didesak untuk tidak hanya fokus pada satu aspek saja. Mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai level risiko.
“Strategi mitigasi yang komprehensif harus disiapkan untuk merespons dampak keamanan, politik, ekonomi, dan fragmentasi sosial. Ini harus dihitung mulai dari level rendah, moderat, tinggi, hingga ekstrem,” pungkas Syauqillah.
Dengan cadangan energi yang terbatas dan ruang digital yang memanas, Indonesia kini berpacu dengan waktu untuk mengamankan stabilitas dalam negeri di tengah badai geopolitik Timur Tengah. (*/tur)



