BUNTOK, Kalteng.co – Secara kultural, eksistensimiliter di Indonesia memiliki ciri yang khas. Berbeda dengan militer lain di dunia. Pola interaksi antara TNI dan rakyat melahirkan kedekatan yang mendalam, yang tergambar dalam kemanunggalan TNI-Rakyat.
Hal ini tidak lepas dari doktrin dan sejarah. Salah satu program untuk merawat dan mengokohkan kemanunggalan TNI-Rakyat adalah TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).
TMMD merupakan salah satu implementasi dari tugas militer selain perang, yaitu memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan system pertahanan semesta.
Selain itu TMMD juga sebagai sarana memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Karena TMMD merupakan kegiatan lintas sektoral yang memungkinkan seluruh elemen bangsa terlibat di dalamnya.
Nilai strategis lain dari TMMD adalah membantu pemerintah di daerah dalam percepatan pembangunan yang dilaksanakan melalui kegiatan gotong-royong di tengah masyarakat.
Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Dr.Dudung Abdurachman, dalam amanat penutupan TMMD ke-114 menyatakan, Progam TNI Manunggal Membangun Desa ini telah dimulai sejak tahun 1980-an dengan sebutan Program ABRI Masuk Desa (AMD).
Setelah melalui berbagai evaluasi dan penyempurnaan, Program TMMD yang telah berlangsung selama 42 tahun ini, semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat mengingat sebagaian besar wilayah Indonesia merupakan daerah pedesaan, sehingga keterlibatan TNI dalam membangun sarana prasarana dan infrastruktur wilayah masih sangat dibutuhkan.
Seajalan dengan hal tersebut, Pangdam XII/Tpr, Mayjen TNI Sulaiman Agusto, sesaat setelah menutup kegiatan TMMD ke-114 Kodim 1012/Btk, kepada wartawan menyatakan, di masa damai seperti saat ini, tugas TNI yang dominan adalah membantu pemerintah daerah dan kepolisian. Membantu pemerintah daerah salah satunya berupa program TMMD, muaranya untuk kesejahteraan rakyat.




