AKHIR PEKANBeritaKESEHATANLife StyleMETROPOLIS

Rahasia Menurunkan Berat Badan Tanpa Salahkan Nasi: Perhatikan Jeda Makan 5 Jam Sebelum Tidur

KALTENG.CO-Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, melihat anak dengan pipi tembam dan tubuh berisi adalah sebuah kebanggaan.

Tubuh gemuk sering kali dianggap sebagai simbol kesejahteraan dan indikator bahwa anak tersebut “terurus” dengan baik. Sebaliknya, nasi sering kali menjadi musuh nomor satu bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan.

Namun, benarkah anggapan tersebut secara medis? Profesor Ali Khomsan, Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bentuk ketidakpahaman masyarakat terhadap konsep gizi yang benar.

Menyambut Hari Gizi Nasional (HGN) 2026, mari kita bedah fakta di balik mitos gizi yang masih mengakar kuat di tengah masyarakat.

1. Pipi Tembam Bukan Jaminan Sehat

Dahulu, anak gemuk adalah lambang kemakmuran. Kini, paradigma tersebut harus diubah. Kegemukan pada usia dini justru menjadi “pintu masuk” bagi berbagai Penyakit Tidak Menular (PTM) di masa depan.

“Gemuk merupakan lambang bagaimana kita menjadi lebih mudah terekspos oleh penyakit kronis,” ujar Prof. Ali.

Risiko seperti hipertensi dan diabetes melitus kini tidak lagi hanya menyerang lansia, tetapi mulai mengintai anak-anak yang memiliki berat badan berlebih. Standar kesehatan anak yang benar adalah kesesuaian antara berat dan tinggi badan, bukan sekadar angka di timbangan.

2. Membedakan Anak Berbadan Kecil dengan Stunting

Banyak orang tua panik saat melihat anaknya lebih kecil dibanding teman sebayanya dan langsung melabeli mereka sebagai stunting. Padahal, stunting memiliki parameter medis yang sangat spesifik.

  • Ukuran Tinggi Badan: Stunting diukur berdasarkan tinggi badan menurut umur, bukan berat badan.

  • Standar Medis: Puskesmas dan Posyandu memiliki grafik pertumbuhan resmi. Jika anak usia 5 tahun tingginya hanya 90 cm, barulah secara medis bisa dikategorikan stunting.

Untuk menekan angka ini, pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini memperluas sasaran hingga ke balita dan ibu hamil untuk memastikan pemenuhan gizi sejak dalam kandungan.

3. Rahasia Perut Rata: Makan Sore vs Makan Malam

Banyak orang percaya makan malam otomatis membuat gemuk. Faktanya, masalah utamanya bukan pada jam makan, melainkan pada jeda waktu sebelum tidur. Tubuh memerlukan waktu sekitar 4 hingga 5 jam untuk mencerna makanan secara optimal.

Prof. Ali menyarankan agar kita lebih mengutamakan makan sore. Mengapa?

  • Metabolisme Menurun: Seiring bertambahnya usia (paruh baya), kemampuan tubuh membakar kalori melambat.

  • Optimalisasi Pencernaan: Makan sore memberi waktu bagi tubuh untuk mengolah energi sebelum kita beristirahat total pada pukul 9 atau 10 malam.

4. Mengapa Nasi Selalu Disalahkan?

Nasi sering dianggap mengandung kalori yang jauh lebih tinggi dibanding sumber karbohidrat lain. Namun, Prof. Ali melihat ada faktor psikologis dan selera di balik fenomena ini.

Nasi menjadi “kambing hitam” kegemukan karena rasanya yang sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. “Karena nasi itu enak, orang cenderung mengonsumsinya dalam kuantitas yang banyak. Berbeda jika makan singkong atau ubi, kita akan lebih cepat merasa cukup,” jelasnya.

Jadi, bukan nasi yang berbahaya, melainkan porsi atau kuantitasnya. Jika Anda makan ubi jalar dalam jumlah berlebihan pun, risiko kegemukan tetap sama.

Refleksi Hari Gizi Nasional 2026: Sehat Dimulai dari Piringku

Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) pada 25 Januari 2026 membawa pesan penting melalui tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”.

Pesan ini mengingatkan kita bahwa kesehatan jangka panjang ditentukan oleh apa yang tersaji di depan mata kita setiap hari.

Pangan lokal seperti ubi, singkong, jagung, dan sayuran sekitar kita bisa menjadi obat mujarab, namun bisa juga menjadi sumber penyakit jika kita tidak bijak dalam mengatur porsi dan komposisinya. (*/tur)

Related Articles

Back to top button