BeritaHukum Dan KriminalNASIONAL

Syok! Ibu di Papua Meregang Nyawa Bersama Bayinya Akibat Kelalaian RS, Pemda Akui Kebodohan dan Minta Maaf

KALTENG.CO-Irene Sokoy meregang nyawa bersama buah hati karena urusan administrasi didahulukan ketimbang nyawa. Pemda Papua Ambil Langkah Tegas!

Kisah tragis yang menimpa seorang ibu bernama Irene Sokoy dari Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, telah menyentuh hati dan memantik kemarahan publik.

Irene dan bayi yang dikandungnya meninggal dunia setelah berulang kali ditolak dan tak mendapatkan penanganan medis memadai di sebuah rumah sakit setempat.

Peristiwa pilu ini menjadi sorotan tajam karena diduga kuat disebabkan oleh buruknya sistem pelayanan kesehatan yang justru mendahulukan urusan administrasi ketimbang tindakan penyelamatan nyawa.

Kronologi Kematian Tragis Irene Sokoy

Irene Sokoy dilaporkan meninggal dunia pada Senin pekan lalu (17/11/2025) setelah bolak-balik ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari tanpa mendapatkan pertolongan yang layak.

Abraham Kabey, Kepala Kampung Hobong, menyampaikan kekecewaan mendalam atas tragedi yang menimpa warganya. “Apa yang keluarga kami alami adalah hal yang sangat menyakitkan. Kami dari kampung datang minta pertolongan medis, tapi tidak dapat pelayanan yang baik,” sesalnya.

Kekecewaan serupa juga diungkapkan oleh Neil Kabey, suami mendiang Irene. Ia merasa heran dan sangat kecewa karena tidak ada satu pun dokter yang bisa menangani istrinya yang sedang dalam kondisi darurat.

“Kalau saat itu di RSUD Yowari ada dokter, saya yakin istri dan anak saya masih hidup. Kenapa tidak ada dokter pengganti jika memang dokter saat itu tidak ada,” ujar Neil Kabey, menyoroti ketiadaan tenaga medis saat sang istri sangat membutuhkan pertolongan.

Suara-suara dari keluarga dan tokoh masyarakat ini jelas menunjukkan bahwa ada kelalaian fatal dalam standar operasional pelayanan rumah sakit yang berujung pada hilangnya dua nyawa.

Pemda Papua Akui Kebobrokan dan Minta Maaf

Menanggapi insiden memilukan ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Papua langsung mengambil langkah tegas.

Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri secara terbuka menyampaikan permohonan maaf dan turut berduka cita yang mendalam. Ia tidak menampik bahwa pelayanan di RSUD Yowari memang sangat bobrok.

“Saya baru mau memulai, tetapi Tuhan sudah memberikan satu contoh kebobrokan pelayanan kesehatan di Provinsi Papua. Saya mohon maaf dan turut berduka yang mendalam atas kejadian dan kebodohan jajaran pemerintah, mulai dari atas sampai ke tingkat bawah. Ini kebodohan yang luar biasa yang dilakukan oleh pemerintah,” kata Gubernur Fakhiri dengan nada menyesal.

Pengakuan ini merupakan tamparan keras bagi sistem kesehatan di Papua, sekaligus menjadi komitmen awal Pemda untuk melakukan perbaikan fundamental.

📢 Langkah Tegas Gubernur Papua: Evaluasi dan Perombakan Total

Untuk memastikan kejadian tragis seperti yang menimpa Irene dan bayinya tidak terulang lagi, Gubernur Fakhiri berjanji akan segera mengambil tindakan konkret:

  1. Evaluasi Menyeluruh: Melakukan evaluasi total terhadap seluruh pelayanan kesehatan di bawah Pemda Papua.
  2. Pergantian Direktur RS: Memastikan semua direktur rumah sakit yang berada di bawah Pemda Papua akan diganti.
  3. Prioritas Pelayanan: Menekankan kembali prinsip dasar pelayanan medis: “Layani dulu pasien baru urusan yang lain.”
  4. Permintaan Perhatian Kemenkes: Meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk turut memberikan perhatian serius terhadap permasalahan ini.

Gubernur Fakhiri menjadikan insiden ini sebagai pembelajaran berharga, menekankan bahwa tidak ada alasan untuk takut atau malu mengakui kesalahan demi terciptanya pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat.

Pentingnya Etika Medis di Atas Administrasi

Tragedi Irene Sokoy ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya etika medis yang harus selalu diletakkan di atas segala urusan birokrasi dan administrasi.

Undang-Undang dan regulasi kesehatan di Indonesia secara jelas mewajibkan fasilitas kesehatan, terutama Instalasi Gawat Darurat (IGD), untuk memberikan pertolongan pertama kepada pasien yang berada dalam kondisi kritis, terlepas dari kelengkapan dokumen atau kemampuan pembayaran.

Kematian Irene Sokoy dan bayinya adalah cerminan kegagalan sistemik yang harus segera diatasi. Langkah tegas Pemda Papua untuk merombak jajaran direksi rumah sakit diharapkan menjadi awal dari perbaikan signifikan agar hak dasar masyarakat Papua atas layanan kesehatan yang layak dan manusiawi benar-benar terwujud. (*/tur)


Related Articles

Back to top button