Tetap Akrab tapi Profesional, Ini 7 Tips Mengatur Batasan dengan Rekan Kerja

KALTENG.CO-Dunia kerja bukan sekadar tentang menyelesaikan deadline atau mengejar target tahunan. Di balik rutinitas meja kantor, terdapat dinamika sosial yang kompleks.
Kamu akan bertemu dengan berbagai karakter; mulai dari teman yang asyik diajak ngopi, rekan yang seru untuk bertukar cerita, hingga mereka yang akhirnya menjadi sahabat sepenanggungan.
Memiliki teman dekat di kantor tentu menyenangkan dan bisa menjadi support system yang luar biasa. Namun, perlu diingat bahwa ekosistem profesional berbeda dengan lingkungan sekolah atau kuliah.
Di sini, setiap orang sedang meniti tangga karier masing-masing, dan terkadang kepentingan personal bisa berbenturan dengan profesionalisme.
Agar kamu tetap bisa bersosialisasi tanpa mengorbankan karier, berikut adalah 7 cara cerdas menjaga keseimbangan antara profesionalitas dan pertemanan di tempat kerja.
1. Selektif dalam Berbagi Cerita Pribadi (Sortir Curhat)
Membangun kedekatan seringkali dimulai dengan keterbukaan. Namun, waspadalah terhadap gejala over sharing. Di lingkungan yang kompetitif, informasi pribadi bisa menjadi “senjata bermata dua”. Cerita yang menurutmu sepele bisa saja disalahartikan atau digunakan oleh pihak tertentu di masa depan. Tetaplah terbuka secara wajar, namun simpan rahasia terdalam atau masalah finansial pribadimu untuk lingkaran di luar kantor.
2. Tetap Jaga Kehangatan Sosial
Menjaga profesionalitas bukan berarti kamu harus menjadi robot yang dingin. Kamu tetap perlu mengakrabkan diri dengan rekan kerja. Makan siang bersama, mengobrol tentang hobi, atau sekadar menanyakan kabar di sela istirahat adalah investasi sosial yang baik. Membangun koneksi yang hangat akan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan mempermudah kolaborasi tim.
3. Membangun Batasan yang Sehat
Sangat penting untuk memiliki batasan (boundaries) yang jelas. Hindari kesan hanya “menempel” pada satu orang atau satu grup saja (klik). Jika kamu berada di posisi manajerial, terlalu dekat dengan individu tertentu bisa menimbulkan persepsi pilih kasih atau bias. Bersikaplah inklusif agar kamu tetap dipandang sebagai sosok yang adil dan objektif.
4. Kelola Ekspektasi dalam Pertemanan
Menemukan sahabat sejati di kantor adalah sebuah keberuntungan langka, bukan sebuah keharusan. Sadarilah bahwa di kantor, tanggung jawab utama setiap orang adalah kepada perusahaan. Jangan berekspektasi rekan kerjamu akan selalu membelamu saat kamu melakukan kesalahan fatal. Dengan menghapus ekspektasi yang terlalu tinggi, kamu tidak akan mudah kecewa jika dinamika kerja mengubah perilaku seseorang.
5. Jauhi Budaya Ghibah
Membicarakan keburukan rekan kerja atau atasan memang tampak seperti cara cepat untuk merasa “akrab” dengan rekan lain. Namun, ghibah adalah bumerang. Selain merusak reputasi profesionalmu, hal ini bisa memicu konflik besar jika sampai ke telinga HR atau manajemen. Jadilah filter, bukan corong untuk berita negatif.
6. Tampilkan Personal Branding yang Positif
Jadilah pribadi yang memancarkan energi positif. Murah senyum, membantu secara proporsional, dan bersikap ramah kepada siapa pun tanpa memandang jabatan akan membangun citra diri yang kuat. Dengan reputasi sebagai “orang baik yang profesional”, kamu akan lebih aman secara posisi maupun sosial.
7. Pertajam Intuisi dan Kewaspadaan
Dunia kerja tidak selalu berisi orang-orang tulus. Ada kalanya rekan kerja memanfaatkan kedekatan untuk melimpahkan tugas mereka padamu atau bahkan menjatuhkan posisimu secara perlahan. Tetaplah waspada terhadap perilaku toxic. Miliki kepekaan sosial untuk mendeteksi mana teman yang benar-benar tulus dan mana yang hanya datang saat ada butuhnya saja.
Kesimpulan Menjadi karyawan yang sukses berarti mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional. Dengan menerapkan tujuh langkah di atas, kamu tetap bisa menikmati kehidupan sosial di kantor tanpa harus mempertaruhkan integritas dan jenjang kariermu. (*/tur)



