Kisah Asmara di Balik Perkara Hukum Bahtiar Effendi dan Martiase Gawe

Saya Baru Ketemu Secara Langsung
Saat Persidangan
Di mana perempuan ini menyebutnya dengan “bodoh” “Bagi saya perkataan mameh dalam bahasa Dayak itu sangat pantang, orangtua saya saja tidak pernah mengucapkannya kepada saya. Sebegitu prinsipnya perkataan itu bagi saya sampai-sampai waktu itu saya sempat refleks memukulnya di bagian kepala,”ujar Bahtiar Effendi.

Sejak insiden itulah hubungan antara keduanya pun mulai renggang. Hingga akhirnya komunikasi keduanya pun terputus total. “Jujur sejak perkara ini berjalan, saya baru ketemu secara langsung dengannya saat persidangan beberapa waktu lalu saat pemeriksaan pelapor,”ujar salah seorang tokoh Dayak Kalteng ini.
Selain itu, ia juga menyebutkan, bahwa salah satu penyebabnya juga hingga hubungannya keduanya tidak bisa menyatu di hadapan penghulu. Adalah lantaran Martiase Gawe tidak bisa menerima keberadaan anak-anaknya.
“Meskipun ia juga sudah berstatus janda,”ujar Bahtiar Effendi seraya menyebutkan bahwa diri nya juga yang membantu mengurus perceraian Martiase Gawe di Pangadilan Agama.
Sementara itu, terkait dugaan uang senilai ratusan juta rupiah dalam bentuk cek milik Martiase Gawe yang di cairkannya. Bahtiar Effendi mengaku tidak menduga hanya gegara uang sejumlah itu tega memperkarakannya di hadapan hukum.
“Padahal kalau mau hitung-hitungan, sebenarnya biaya yang harus di bayarkannya kepada saya jauh lebih besar. Dari jumlah tersebut, khususnya yang terkait dengan berbagai bantuan hukum. Dan profesionalnya selama ini,”tukas Bahtiar Effendi yang juga Ketua Formad ini.(tur)



