Naluri Keibuan Perempuan: Siap Secara Insting, Namun Kesiapan Emosional dan Nutrisi Jadi Kunci
KALTENG.CO-Setiap perempuan secara naluriah memiliki kesiapan untuk menjadi seorang ibu. Hal ini diungkapkan oleh psikolog keluarga, Samanta Elsener, yang menyatakan bahwa kesiapan ini bukanlah semata-mata persoalan usia atau status pernikahan, melainkan sebuah naluri keibuan alamiah yang telah tertanam dalam diri perempuan sejak lama.
“Sebagai perempuan, secara insting itu selalu merasa siap jadi ibu. Selalu ya,” tegas Samanta pada Senin (21/4/2025).
Menurutnya, dorongan ini muncul karena energi feminin yang ada dalam diri perempuan memang secara alami diciptakan untuk melindungi dan melimpahkan kasih sayang, terutama kepada anak-anak mereka.
Kesiapan Insting Tak Selalu Linier dengan Kesiapan Emosional dan Mental
Meskipun demikian, Samanta Elsener menekankan bahwa kesiapan secara insting tidak secara otomatis berarti semua perempuan langsung siap secara emosional dan mental untuk mengemban peran sebagai ibu.
Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi kesiapan menjadi ibu secara holistik, termasuk di antaranya adalah tekanan sosial yang seringkali menyertai peran wanita, dinamika emosional individu, serta berbagai pertimbangan pribadi yang unik bagi setiap perempuan.
Peran Krusial Nutrisi di Masa Kehamilan dan 1000 Hari Pertama Kehidupan
Selain dari aspek psikologis, penting untuk menyoroti betapa krusialnya pemenuhan nutrisi di masa kehamilan dan selama 1000 hari pertama kehidupan anak. Periode ini merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak di masa depan.
Menurut dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin, SpOG, kenyataannya masih banyak ibu hamil di Indonesia yang mengalami kekurangan nutrisi esensial seperti protein, kalsium, DHA, zat besi, dan asam folat.
“Kekurangan nutrisi ini dapat membawa dampak serius bagi ibu dan bayi, mulai dari risiko anemia pada ibu hamil hingga potensi gangguan perkembangan janin,” jelas dr. Ardiansjah.
Fenomena Generasi Z yang Cenderung Menunda Kehamilan
Menariknya, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2022 menunjukkan adanya perubahan tren terkait pandangan terhadap peran keibuan. Sekitar 8,2 persen perempuan usia produktif (15–49 tahun) yang telah menikah memilih untuk menunda atau bahkan menghindari kehamilan.
Angka ini secara signifikan mencerminkan adanya pergeseran sikap, terutama di kalangan generasi muda, seperti Generasi Z, terhadap peran keibuan.
Samanta Elsener mengamati bahwa Gen Z cenderung memiliki perencanaan yang lebih matang dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk berkeluarga.
Mereka memiliki keinginan kuat untuk mencapai prestasi pribadi terlebih dahulu dan sangat menyadari pentingnya kesiapan finansial sebelum memutuskan untuk menjadi orang tua.
“Mereka pengen kasih yang terbaik buat anaknya. Mereka melakukan riset mendalam, berdiskusi dengan berbagai pihak, dan banyak mencari tahu dari antar generasi sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk memiliki anak,” pungkas Samanta.
Meskipun naluri keibuan merupakan bagian inheren dari diri seorang perempuan, kesiapan menjadi ibu yang sesungguhnya melibatkan kematangan emosional, mental, serta pemahaman dan pemenuhan kebutuhan nutrisi selama kehamilan dan 1000 hari pertama kehidupan anak.
Fenomena Generasi Z yang cenderung menunda kehamilan menunjukkan adanya kesadaran yang lebih tinggi akan pentingnya perencanaan dan kesiapan yang matang sebelum memasuki peran sebagai orang tua.
Hal ini menjadi catatan penting bagi masyarakat dan pemerintah dalam memberikan dukungan yang komprehensif bagi calon ibu dan keluarga muda. (*/tur)




