BeritaEkonomi BisnisKAWAT DUNIANASIONAL

Kebijakan “Bom Tarif” Trump Guncang Pasar Global! Bitcoin Siap Melesat?

KALTENG.CO-Panggung ekonomi global kembali memanas. Kali ini, biang keladinya adalah manuver kebijakan perdagangan dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang kembali aktif berkampanye menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2025.

Ia melontarkan “bom tarif” yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia, memicu kekhawatiran dan memicu reaksi di berbagai pasar.

Ancaman tarif baru ini bukan main-main. Trump mengumumkan tarif 50 persen untuk produk tembaga impor, bahkan ancaman hingga 200 persen untuk farmasi. Tak hanya itu, negara-negara anggota BRICS seperti India dan Indonesia pun tak luput dari sasaran, dengan ancaman tarif tambahan 10 persen. Uni Eropa? Bersiaplah, karena mereka juga terancam kena “semprot” tarif tambahan.

Volatilitas Pasar dan Peran Bitcoin sebagai “Safe Haven”

Dampak dari kebijakan ini tak hanya sekadar angka di atas kertas. Ini mencerminkan arah kebijakan perdagangan global yang semakin sulit diprediksi, menciptakan ketidakpastian yang signifikan. Pasar langsung bereaksi: harga tembaga melonjak, saham-saham sektor farmasi goyah, dan kekhawatiran inflasi membayangi ekonomi global.

Parahnya lagi, ancaman tarif sebesar 25 persen hingga 40 persen juga menghantui Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia, alias semua negara yang dianggap “tidak cukup akur” dengan AS. Di tengah kekacauan ini, mata para investor mulai beralih ke dunia kripto.

Fahmi Almuttaqin, seorang analis dari platform kripto Reku, melihat situasi ini sebagai momen emas bagi Bitcoin. “Ketika pasar saham labil dan risiko inflasi meningkat, banyak investor mencari perlindungan di aset yang dianggap lebih aman. Dan Bitcoin seringkali jadi pilihan,” jelasnya melalui catatan yang diterima JawaPos.com.

Namun, Fahmi mengingatkan bahwa bukan berarti segalanya akan langsung mulus. Volatilitas jangka pendek tetap menjadi ancaman, apalagi dengan sifat kebijakan Trump yang bisa berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, ia menyarankan agar investor kripto tetap waspada, sambil terus memantau indikator penting seperti data inflasi, pergeseran sentimen risk-off, dan aliran modal global.

Sinyal Kuat Akumulasi Bitcoin dari Investor Institusional

Di balik gejolak pasar, ada kabar menarik dari data on-chain Bitcoin. Rasio outflow/inflow Bitcoin – perbandingan antara Bitcoin yang keluar dan masuk dari exchange – saat ini berada di angka 0,9. Ini adalah level terendah sejak berakhirnya bear market pada tahun 2022. Apa artinya? Lebih banyak Bitcoin keluar dari bursa, yang mengindikasikan adanya akumulasi atau pembelian untuk disimpan, bukan untuk dijual.

“Meskipun ada tekanan jual jangka pendek, harga Bitcoin tetap kuat di rentang USD100K–USD 110K,” kata Fahmi.

Yang lebih mencengangkan, ada lebih dari 19.400 BTC yang diam-diam dipindahkan dari wallet lama (berusia 3–7 tahun) ke wallet institusional. Menurut Fahmi, ini adalah sinyal jelas bahwa pemain besar, entah itu hedge fund atau perusahaan raksasa, mulai menempatkan posisi strategis mereka di Bitcoin.

Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan rally besar-besaran di semester kedua 2025. “Level USD 100K sekarang bukan cuma support teknikal, tapi zona akumulasi baru secara fundamental,” tegas Fahmi.

Bagi investor ritel, ini bisa jadi saat yang tepat untuk menerapkan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA), yaitu membeli secara bertahap untuk menghindari jebakan harga puncak. Namun, penting untuk diingat, meskipun sinyal akumulasi semakin kuat, risiko tetap ada. Volatilitas jangka pendek dan potensi tekanan jual bisa membuat pasar goyang sewaktu-waktu.

Jadi, tetap atur strategi investasi Anda dengan cermat, sesuaikan porsi investasi, dan yang terpenting, disiplin serta manajemen risiko adalah kunci utama di dunia kripto yang dinamis ini. (*/tur)

KADIN KALTENG
https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Related Articles

Back to top button