Sibuk tapi Kok Merasa Belum Ngapa-ngapain? Ini Akar Masalahnya!

KALTENG.CO-Pernahkah Anda merasa sudah seharian penuh beraktivitas, tapi saat malam tiba, muncul pertanyaan “Kenapa ya, rasanya belum ngapa-ngapain?” Sensasi ini, di tengah ritme hidup yang serba cepat, sangat umum terjadi.
Bukan sekadar masalah manajemen waktu, perasaan ini terkait erat dengan ekspektasi, beban mental, dan bagaimana kita mengukur pencapaian diri.

Menurut David Susman, PhD, seorang psikolog klinis yang menulis di Verywell Mind, rasa tidak produktif muncul ketika ada ketimpangan antara usaha yang kita curahkan dan persepsi kita terhadap hasilnya. Kita seringkali terlalu terpaku pada kuantitas — berapa banyak tugas yang sudah diselesaikan — alih-alih kualitas atau relevansi aktivitas tersebut terhadap tujuan hidup kita. Akibatnya, meskipun tubuh terasa lelah dan jadwal padat, otak kita masih merasa “belum cukup” atau “belum ada kemajuan berarti.”
Jebakan Kesibukan dan Tekanan Modern
Lebih dari itu, beberapa faktor lain turut memperkuat perasaan stagnan ini:
- Kebiasaan Multitasking: Banyak dari kita merasa harus melakukan banyak hal sekaligus untuk dianggap produktif. Padahal, multitasking justru bisa mengurangi fokus dan efektivitas, sehingga pekerjaan terasa tidak selesai-selesai.
- Tekanan Media Sosial: Platform media sosial seringkali menampilkan “sorotan” kehidupan orang lain yang tampak sangat produktif dan sukses. Ini bisa memicu perbandingan sosial yang tidak sehat, membuat kita merasa tertinggal meskipun sudah bekerja keras.
- Kurangnya Pemulihan Mental: Di tengah jadwal yang padat, kita sering lupa memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat dan memulihkan mental. Otak yang kelelahan akan kesulitan fokus dan memproses informasi, sehingga aktivitas yang dilakukan terasa kurang efektif.
Jadi, bukan berarti kita malas. Justru sebaliknya, kita mungkin terlalu terpaku pada kesibukan semata, bukan pada kemajuan yang sebenarnya ingin kita capai. Ini adalah inti dari mengapa kita merasa tidak produktif meskipun sepanjang hari sibuk.
Mengubah perspektif dari kuantitas menjadi kualitas, serta memberikan ruang untuk istirahat, bisa jadi kunci untuk keluar dari lingkaran frustrasi ini. (*/tur)



