Nepal Memanas! Ketika Korupsi dan Pengangguran Pancing Kemarahan Gen Z
KALTENG.CO-Negara Nepal tengah menghadapi salah satu krisis politik dan sosial terparah dalam sejarah modernnya. Situasi memuncak ketika dua pucuk pimpinan negara, Perdana Menteri K. P. Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Poudel, mengundurkan diri dalam hitungan jam. Keputusan mengejutkan ini terjadi di tengah gelombang demonstrasi besar yang dipimpin oleh generasi muda yang menuntut perubahan drastis.
Protes Berdarah dan Korban Berjatuhan
Awalnya, unjuk rasa yang dipimpin kelompok anak muda ini berjalan damai. Namun, situasi segera memburuk dan berubah menjadi bentrokan berdarah di berbagai sudut ibu kota, Kathmandu. Aparat keamanan dilaporkan menembaki massa, menewaskan dua demonstran muda.
Menurut data media lokal, jumlah korban jiwa sejak gelombang protes pecah telah mencapai 22 orang, sementara lebih dari 500 orang lainnya terluka akibat bentrokan dengan polisi. Kemarahan publik semakin tak terkendali setelah Menteri Keuangan, Bishnu Prasad Paudel, dikejar dan dipukuli demonstran. Insiden ini menunjukkan betapa dalamnya krisis kepercayaan rakyat terhadap elite politik. Para pengunjuk rasa menuding pemerintah gagal mengatasi korupsi, pengangguran, dan kesenjangan sosial yang semakin melebar.
Kekacauan Meluas, Elite Politik Mengungsi
Kondisi keamanan yang memburuk juga menyebabkan otoritas menutup Bandara Internasional Tribhuvan, pintu masuk utama ke Nepal. Sejumlah penerbangan menuju dan dari India dibatalkan, memicu kekacauan pada jalur transportasi internasional.
Di tengah situasi genting tersebut, saksi mata melaporkan adanya sekitar sepuluh helikopter yang mengangkut pejabat tinggi dan keluarganya dari kediaman resmi menuju bandara. Hal ini menjadi sinyal kuat tingginya kekhawatiran di kalangan elite politik dan menggambarkan ketidakstabilan yang luar biasa.
Balen Shah: Harapan Baru di Tengah Badai
Titik balik dari gelombang demonstrasi ini adalah munculnya tuntutan rakyat agar Wali Kota Kathmandu, Balen Shah, ditunjuk sebagai pemimpin pemerintahan baru. Shah, yang dikenal dengan gaya kepemimpinan tegas dan dekat dengan rakyat, dinilai merepresentasikan harapan baru bagi generasi muda Nepal.
Bagi banyak anak muda, Shah dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap sistem politik yang dianggap korup, lamban, dan tidak mampu menjawab tantangan zaman. Dukungan terhadapnya terus mengalir, baik di jalanan maupun media sosial, menunjukkan potensi lahirnya figur politik alternatif di Nepal.
Akar Masalah: Ketidakstabilan dan Korupsi
Krisis yang meletus saat ini sebenarnya berakar pada ketidakstabilan politik yang sudah lama menghantui Nepal sejak berakhirnya monarki pada 2008. Perpecahan antarpartai, pergantian perdana menteri yang terlalu sering, dan kegagalan pemerintah mengelola ekonomi telah membuat kepercayaan rakyat merosot tajam.
Ketegangan semakin diperburuk oleh meningkatnya pengangguran, minimnya lapangan kerja bagi generasi muda, dan korupsi yang merajalela di kalangan pejabat. Kondisi inilah yang akhirnya memicu gelombang demonstrasi besar-besaran, dengan Gen Z menjadi motor utama perlawanan.
Krisis ini menunjukkan bahwa rakyat Nepal, terutama kaum muda, telah mencapai batas kesabaran mereka terhadap elite politik lama.
Akankah Balen Shah mampu menjadi jawaban atas tuntutan perubahan, ataukah Nepal akan terjerumus ke dalam ketidakstabilan yang lebih dalam? (*/tur)




