Musim Hujan 2025/2026 Datang Lebih Cepat, Ini Dampak dan Antisipasinya!

KALTENG.CO-Musim hujan 2025/2026 diperkirakan datang lebih awal dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan akan dimulai pada Agustus 2025 dan puncaknya terjadi pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Perubahan ini dipengaruhi oleh fenomena iklim global yang unik, membawa dampak signifikan, baik positif maupun negatif, bagi berbagai sektor di Indonesia.
Mengapa Musim Hujan Datang Lebih Cepat?
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, ada dua faktor utama yang memengaruhi percepatan musim hujan tahun ini:
- Indian Ocean Dipole (IOD) Negatif: Fenomena ini terjadi saat suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat lebih dingin daripada bagian timur. Kondisi ini, dengan indeks -1,2, memicu suplai uap air yang lebih besar ke wilayah Indonesia, terutama bagian barat, sehingga awan hujan terbentuk lebih intens.
- Suhu Muka Laut yang Lebih Hangat: Suhu air laut di perairan sekitar Indonesia tercatat lebih hangat (+0,42) dari rata-rata. Suhu yang lebih hangat ini meningkatkan penguapan, yang mempercepat pembentukan awan dan turunnya hujan.
Kedua faktor ini, ditambah dengan kondisi El Niño–Southern Oscillation (ENSO) yang netral, menciptakan kondisi ideal bagi percepatan musim hujan. Fenomena IOD negatif diperkirakan bertahan hingga November 2025, sementara ENSO netral diprediksi akan berlangsung hingga akhir 2025.
Jadwal dan Puncak Musim Hujan di Berbagai Wilayah
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa dari total 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 294 wilayah (42,1%) akan mengalami musim hujan lebih cepat. Jadwal ini bervariasi di setiap pulau:
- September 2025: Musim hujan dimulai di 79 ZOM, mencakup sebagian wilayah Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.
- Oktober 2025: Sebanyak 149 ZOM, meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, hingga Papua Tengah, akan mulai memasuki musim hujan.
- November 2025: Curah hujan akan meningkat di 105 ZOM, termasuk NTB, NTT, Sulawesi Tengah dan Tenggara, Maluku, Papua Barat, hingga Papua.
Puncak musim hujan juga tidak serentak. Sumatera dan Kalimantan diperkirakan mengalami puncak hujan pada November–Desember 2025, sementara Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua puncaknya diprediksi pada Januari–Februari 2026.
Potensi Bahaya dan Dampak Positif
Meskipun sebagian besar wilayah diprediksi mengalami curah hujan normal, BMKG mencatat bahwa 193 ZOM (27,6%) berpotensi mengalami curah hujan di atas normal. Kondisi ini meningkatkan risiko bahaya hidrometeorologi seperti:
- Banjir dan banjir bandang
- Tanah longsor
- Angin kencang
Selain itu, peningkatan kelembaban juga berisiko memicu peningkatan kasus penyakit tropis seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), terutama pada Desember 2025 hingga Januari 2026.
Namun, percepatan musim hujan ini juga membawa manfaat positif. Bagi sektor pertanian, ini adalah kesempatan emas. Petani dapat menyesuaikan kalender tanam lebih dini, yang berpotensi meningkatkan produktivitas dan mendukung upaya swasembada pangan.
Langkah Antisipasi yang Perlu Dilakukan
Menghadapi perubahan iklim ini, BMKG mengimbau berbagai pihak untuk melakukan persiapan dan mitigasi. Beberapa langkah penting yang disarankan oleh Dwikorita Karnawati meliputi:
- Sektor Pertanian: Petani perlu segera menyiapkan kalender tanam, memilih varietas tanaman yang tahan genangan, dan memperbaiki sistem irigasi.
- Sektor Perkebunan: Perkebunan harus mengantisipasi kelembaban tinggi dengan melakukan pengendalian hama dan pemupukan yang tepat.
- Sektor Energi: Pengelola waduk diimbau untuk mengoptimalkan pengisian air sejak awal musim guna menjamin pasokan energi dan air.
- Sektor Kebencanaan dan Kesehatan: Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, tanah longsor, dan penyakit seperti DBD.
BMKG terus berupaya menyediakan informasi cuaca dan iklim secara akurat melalui berbagai platform, termasuk aplikasi seluler dan media sosial. Dengan memanfaatkan informasi ini, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat melakukan perencanaan, mitigasi, dan pengambilan keputusan yang tepat untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan manfaat dari musim hujan 2025/2026.
Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang prediksi cuaca di wilayah tertentu atau tips khusus untuk menghadapi musim hujan? (*/tur)



