Bukan Lagi United, Liverpool Jadi Pesaing Utama Manchester City di Sektor Bisnis

KALTENG.CO-Manchester City kini tidak hanya mendominasi lapangan hijau, tetapi juga merajai dunia bisnis. Klub yang satu dekade lalu kerap dianggap sebagai pengikut setia Manchester United dalam urusan komersial, kini justru berhasil melesat jauh dan menempati posisi elit sebagai salah satu klub terkaya di dunia.
Awalnya Meniru, Lalu Menciptakan Jejak Sendiri
Pada awal 2010-an, Manchester United adalah raksasa komersial yang tak tertandingi. Mereka menjadi pionir dalam strategi branding global, meraup pemasukan besar dari berbagai sponsor di seluruh dunia. Melihat kesuksesan rival sekotanya, Manchester City di bawah kepemilikan Sheikh Mansour dan visi strategis CEO Ferran Soriano dengan cerdas meniru formula tersebut.
Namun, yang membedakan pendekatan City adalah eksekusi yang lebih matang dan berkelanjutan. Dibantu dengan stabilitas manajemen dan prestasi konsisten di bawah asuhan Pep Guardiola, City tidak hanya mampu mengejar, tetapi juga melampaui cetak biru yang dulu dipelopori oleh United.
Perbedaan Mencolok dalam Pertumbuhan Pendapatan
Laporan terbaru dari MailSport menunjukkan kesenjangan yang signifikan antara kedua klub. Dalam enam musim terakhir, pendapatan komersial United hanya tumbuh sekitar 10 persen. Di sisi lain, Manchester City mencatat lonjakan lebih dari 50 persen pada periode yang sama.
Hasilnya terlihat jelas dalam Deloitte Money League 2025. City kini berada di posisi kedua, hanya di bawah Real Madrid, mengukuhkan statusnya sebagai kekuatan finansial utama. Sementara itu, United harus puas berada di peringkat keempat, tertinggal jauh dari tetangganya yang dulu dianggap sebagai klub “junior” dalam hal bisnis.
City Football Group (CFG) sebagai Kekuatan Global
Keunggulan City tidak hanya berasal dari trofi yang mereka raih, tetapi juga dari jaringan global City Football Group (CFG). Ekosistem ini merupakan kunci kesuksesan mereka. Klub-klub satelit di bawah naungan CFG, seperti New York City FC (Amerika Serikat), Girona (Spanyol), dan Mumbai City (India), berfungsi sebagai pintu masuk untuk memperluas merek Manchester City di pasar-pasar penting dunia.
Jaringan ini membuat mereka lebih mudah menarik sponsor-sponsor premium, terutama dari kawasan Asia dan Amerika Utara yang dianggap vital untuk masa depan industri sepak bola.
Kini, City bahkan melihat Liverpool sebagai pesaing utama di ranah komersial, bukan lagi United. Meski upaya modernisasi finansial yang digerakkan oleh Sir Jim Ratcliffe melalui INEOS tengah berjalan di Old Trafford, mengejar ketertinggalan dari City bukanlah pekerjaan mudah.
Stabilitas, kesuksesan beruntun, serta daya tarik global yang terus meningkat membuat Manchester City berada di jalur yang semakin sulit untuk ditandingi.
Kebangkitan komersial Manchester City ini menandai pergeseran kekuatan di sepak bola Inggris, di mana apa yang dulu dianggap sebagai wilayah tak tersentuh milik Manchester United kini telah menjadi benteng kokoh milik City. (*/tur)



