
KALTENG.CO-Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 menjadi momen yang istimewa dan penuh makna. Pemerintah bersama para tokoh agama dan ribuan santri memilih Barus, Sumatera Utara, sebagai pusat perayaan.
Kawasan yang dijuluki sebagai “Titik Nol” masuknya peradaban Islam ke Nusantara ini menjadi saksi bisu sejarah panjang kontribusi santri dan ulama bagi bangsa.
Barus: Titik Nol Peradaban Islam Nusantara
Pemilihan Barus bukan tanpa alasan. Secara historis, Barus di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, diyakini sebagai gerbang awal masuknya Islam ke Tanah Air. Di tempat inilah, Syekh Mahmud Bin Abdurrahman Bin Muadz Bin Jabal, seorang tokoh dari Jazirah Arab, mendarat. Kedatangannya tidak semata untuk berdagang, melainkan juga untuk menyebarkan ajaran Islam, jauh sebelum era kerajaan-kerajaan besar di Jawa.
Makam Syekh Mahmud, yang berada di atas bukit Barus, menjadi monumen sejarah peradaban Islam di Nusantara yang telah eksis sejak tahun 800-an. Keberadaan situs bersejarah ini mempertegas peran sentral ulama dan santri dalam membentuk fondasi sosial, pendidikan, dan kehidupan pesantren di Indonesia.
“Dari titik inilah, Islam tumbuh menjadi peradaban besar yang melahirkan sistem sosial, pendidikan, dan kehidupan pesantren di Indonesia,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin saat ditemui di Barus, Selasa (21/10).
Santri: Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia
Mengangkat tema Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia, Hari Santri 2025 menegaskan kembali peran historis santri dalam perjuangan kemerdekaan. Di masa penjajahan, di bawah fatwa ulama besar Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, lahirlah Resolusi Jihad. Fatwa sakral ini membakar semangat umat Islam, termasuk para santri, untuk angkat senjata mempertahankan kedaulatan Tanah Air.
“Meskipun tanpa senjata modern, santri dan rakyat berjuang dengan keyakinan, keberanian, dan semangat mati syahid. Itulah energi yang melahirkan Hari Santri 22 Oktober dan kemenangan besar 10 November sebagai Hari Pahlawan,” tegas Cak Imin, yang juga dikenal sebagai Panglima Santri.
Lebih dari sekadar seremonial, Ketua Umum DPP PKB itu menegaskan bahwa Hari Santri adalah momentum kebangkitan peradaban Islam Nusantara dari titik nol menuju peradaban dunia.
“Zaman sudah berubah. Ilmu dan teknologi menuntut santri untuk adaptif dan kompetitif. Jangan pernah takut terhadap tantangan atau serangan. Santri sejati selalu cinta damai, menjaga harmoni, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” pesan Muhaimin Iskandar.
Puncak perayaan Hari Santri Nasional 2025 akan dimeriahkan dengan apel yang dipimpin oleh Cak Imin pada Rabu (22/10/2025), diikuti oleh 2.000 santri dari berbagai pondok pesantren di Tapanuli Tengah.
Alarm bagi Negara: Tragedi Santri dan Komitmen Pemerintah
Namun, di tengah kemeriahan Hari Santri, muncul sorotan tajam terhadap kondisi infrastruktur dan perlindungan bagi para santri. Tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, hingga kasus dugaan perundungan yang menimpa santri berinisial AS (13) di Ponpes Salafiyah Al-Hikmah, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menjadi alarm bagi semua pemangku kepentingan.
Rentetan peristiwa ini menyadarkan bahwa negara tidak boleh absen dalam menjamin keamanan dan kualitas pendidikan di pesantren, yang merupakan salah satu lumbung pendidikan SDM strategis bangsa.
“Musibah di Sidoarjo menyadarkan kita semua bahwa negara tidak boleh absen dari ruang belajar santri. Banyak pesantren menghadapi keterbatasan anggaran dan pembangunan tanpa perencanaan teknis yang matang,” kritik Muhaimin Iskandar, menyoroti tantangan yang dihadapi ribuan pesantren di Indonesia yang berjuang tanpa bantuan dana pemerintah yang memadai.
Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran dan Penguatan Pesantren
Peringatan Hari Santri 2025 bertepatan dengan satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Cak Imin menyebutkan bahwa kedekatan Presiden Prabowo dengan pesantren sudah terjalin sejak lama.
“Pak Presiden punya hubungan yang sangat dekat dengan para kiai. Sejak masih menjadi prajurit, beliau sering datang ke pesantren untuk belajar nilai perjuangan dan menempa karakter,” tutur Muhaimin Iskandar.
Kedekatan historis ini kini diwujudkan dalam komitmen kuat pemerintah untuk menghadirkan kebijakan nyata, terutama melalui pelaksanaan Undang-Undang Pesantren dan penguatan menyeluruh terhadap pendidikan pesantren.
Ini diharapkan dapat mengatasi masalah infrastruktur dan menjamin perlindungan bagi setiap santri, memastikan pesantren tetap menjadi pusat peradaban yang aman dan berkualitas. (*/tur)




