Data Terbaru: Tingkat Keberhasilan AI Selesaikan Tugas Manusia Melonjak Hingga 50%, Siapkah Kita!
KALTENG.CO-Perkembangan pesat Kecerdasan Buatan (AI) kini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Sejumlah pakar teknologi global memperingatkan bahwa laju inovasi AI telah melampaui kesiapan sistem pengaman dunia.
Muncul kekhawatiran besar bahwa umat manusia mungkin tidak akan memiliki cukup waktu untuk membangun “pagar betis” keselamatan sebelum teknologi ini menjadi sulit dikendalikan.
Peringatan keras ini salah satunya datang dari David Dalrymple, Direktur Program di Advanced Research and Invention Agency (Aria), lembaga riset independen Inggris. Menurutnya, lonjakan kapabilitas AI bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan institusi manusia dalam memitigasi risikonya.
Lonjakan Kemampuan AI: Melampaui Batas Manusia?
Berdasarkan data terbaru per Januari 2026, sistem AI tidak lagi hanya sekadar asisten digital, melainkan mulai mendekati kemampuan manusia dalam menyelesaikan tugas-tugas kompleks.
“Kita harus prihatin terhadap sistem yang mampu melakukan seluruh fungsi manusia dengan lebih baik, lebih cepat, dan biaya lebih rendah,” ujar Dalrymple sebagaimana dikutip dari The Guardian (5/1/2026).
Ia memproyeksikan sebuah realitas yang mencengangkan: dalam lima tahun ke depan, sebagian besar tugas bernilai ekonomi tinggi akan diambil alih oleh mesin.
Temuan Mengejutkan UK AI Security Institute (AISI)
Laporan terbaru dari AISI memperkuat kekhawatiran tersebut dengan data yang valid:
- Performa Lipat Ganda: Kemampuan model AI canggih kini meningkat dua kali lipat setiap delapan bulan.
- Efisiensi Kerja: Tingkat keberhasilan AI dalam menyelesaikan tugas setara tenaga magang melonjak drastis dari 10% menjadi 50% hanya dalam satu tahun.
- Otonomi Tinggi: Beberapa model AI mampu menyelesaikan tugas mandiri yang biasanya membutuhkan waktu satu jam bagi seorang pakar manusia.
Risiko Replikasi Mandiri: AI yang “Berkembang Biak”
Salah satu aspek yang paling krusial sekaligus menakutkan adalah kemampuan replikasi mandiri. Ini adalah potensi di mana AI mampu menyebarkan salinan dirinya ke sistem lain tanpa campur tangan manusia.
Dalam pengujian terbatas, dua model AI tercanggih di dunia mencatat tingkat keberhasilan replikasi lebih dari 60%. Meski AISI menilai skenario terburuk ini masih kecil kemungkinannya terjadi di dunia nyata saat ini, angka tersebut menunjukkan betapa tipisnya jarak antara fiksi ilmiah dan realitas teknis.
Ketidaksiapan Perusahaan Teknologi Raksasa
Ironisnya, di tengah perlombaan inovasi, standar keselamatan justru sering terabaikan. Kajian dari Future of Life Institute mengungkapkan fakta pahit bahwa praktik keselamatan di raksasa teknologi seperti OpenAI, Anthropic, xAI, dan Meta masih berada di bawah standar global yang diharapkan.
Pakar AI ternama, Yoshua Bengio, juga menyoroti tantangan besar dalam memantau dan mengendalikan perilaku sistem AI tingkat lanjut. Menurutnya, dunia sedang berjalan tanpa kesadaran penuh menuju transisi yang berpotensi mendestabilisasi keamanan dan ekonomi global.
“Peradaban manusia sedang berjalan menuju transisi besar ini tanpa kesadaran penuh akan risikonya,” – David Dalrymple.
Persimpangan Krusial Peradaban
Tahun 2026 menjadi tahun pembuktian bagi tata kelola teknologi global. Dunia kini berada di persimpangan: apakah kita mampu membangun kendali yang memadai, atau justru akan tertinggal oleh kecerdasan buatan yang semakin otonom.
Tanpa sinergi antara regulasi pemerintah dan tanggung jawab korporasi, risiko keguncangan stabilitas ekonomi dan keamanan global bukan lagi sekadar prediksi, melainkan ancaman nyata di depan mata.(*/tur)




