BeritaEkonomi Bisnis

Kisah Prima Firmana, GM Hotel di Palangka Raya: Dari Cita-cita Jadi Banker hingga Berkarier di Industri Perhotelan

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Perjalanan karier seseorang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Hal tersebut dialami Prima Firmana, seorang General Manager (GM) hotel di Kota Palangka Raya yang kini sukses memimpin sebuah hotel berbintang di Kalimantan Tengah, meski awalnya bercita-cita berkarier di dunia perbankan.

Prima Firmana mengungkapkan, sejak kecil ia memiliki impian menjadi seorang banker. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat magang dan bekerja di sektor keuangan pada tahun 2004. Namun, seiring waktu ia merasa pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan minatnya.

Keputusan pun diambil untuk meninggalkan dunia perbankan dan mencari peluang baru. Tak lama berselang, kesempatan datang dari industri perhotelan yang saat itu sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tanpa memiliki pengalaman di bidang hospitality, Prima direkrut sebagai staf penjualan (sales) di sebuah hotel yang berada di kawasan wisata Jawa Timur Park, tepatnya di Tanjung Kodok Beach Resort, Lamongan, Jawa Timur.

“Saat itu saya benar-benar tidak paham dunia hotel. Bahkan ketika ditanya apa yang akan dijual, saya bingung. Saya pikir tamu datang sendiri tanpa perlu dijual,” ujar Prima Firmana sambil mengenang awal kariernya.

Tantangan semakin terasa karena hotel tersebut masih tergolong baru dan berada di kawasan yang belum berkembang. Lokasinya juga cukup jauh dari pusat keramaian sehingga fasilitas di sekitarnya masih terbatas.

Ia bahkan mengingat bagaimana kawasan tersebut berdekatan dengan Desa Tenggulun yang sempat dikenal sebagai kampung halaman salah satu pelaku Bom Bali. Situasi keamanan saat itu cukup menjadi perhatian aparat.

“Sering ada aparat intel yang datang untuk memastikan kondisi aman. Waktu itu tempat wisata juga belum banyak, bahkan untuk mencari toko saja harus menempuh perjalanan cukup jauh,” tuturnya.

Setelah beberapa waktu bekerja di Lamongan, Prima melanjutkan karier di Hotel Klub Bunga Butik Resort di Kota Batu yang masih berada dalam jaringan Jawa Timur Park. Di hotel inilah ia mulai serius membangun karier di bidang pemasaran perhotelan.

Selama kurang lebih delapan tahun bekerja, Prima Firmana berhasil menunjukkan kinerja yang baik hingga dipercaya menjabat sebagai Sales Manager sekaligus memimpin departemen penjualan.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk melangkah ke jenjang karier berikutnya. Ia kemudian bergabung dalam tim pembukaan hotel baru bernama Atria sebagai Sales Manager sebelum akhirnya mendapatkan promosi sebagai Senior Sales Manager.

Perjalanan karier Prima Firmana terus berkembang seiring kesempatan bekerja di berbagai jaringan hotel nasional maupun internasional. Ia sempat bergabung dengan jaringan Swiss-Belhotel sebelum akhirnya berkarier di jaringan hotel global Accor melalui brand Ibis Styles.

Di Ibis Styles, ia menghabiskan waktu sekitar tujuh tahun. Ia memulai posisi sebagai Director of Sales sebelum dipercaya menduduki jabatan Operation Manager selama lima tahun. Setelah lama berkarier di Pulau Jawa, Prima akhirnya mencoba tantangan baru dengan melamar ke jaringan hotel Archipelago International pada awal tahun 2022.

Langkah tersebut awalnya dilakukan secara spontan. Namun, tak disangka lamaran yang ia kirimkan langsung mendapat respons cepat dari pihak manajemen pusat. “Setelah briefing pagi, saya iseng kirim email lamaran. Tidak sampai satu jam sudah dibalas,” ungkap Prima Firmana.

Dari proses tersebut, ia justru ditawari posisi sebagai General Manager di sebuah hotel di Kota Palangka Raya. Tawaran tersebut sempat membuatnya ragu karena ia belum pernah sama sekali mengunjungi kota tersebut. “Saya benar-benar belum tahu seperti apa Palangka Raya. Waktu itu sampai harus mencari tahu dulu lewat internet,” katanya.

Setelah melewati tahap wawancara daring dengan manajemen pusat dan pemilik hotel, ia akhirnya diundang untuk melihat langsung lokasi hotel di Palangka Raya. Ia tiba di kota tersebut sehari setelah libur Imlek tahun 2022. Pengalaman pertama melihat Palangka Raya dari udara sempat membuatnya terkejut.

Kondisi Ekonomi Sekarang Hampir Mirip Seperti Masa Pandemi

“Dari pesawat saya lihat hanya hutan, hampir tidak terlihat rumah. Tapi bandara terlihat sangat bagus dari atas, bahkan mengingatkan saya pada Opera House di Sydney,” ujarnya. Kesan positif semakin terasa saat ia tiba di kota tersebut. Menurutnya, Palangka Raya memiliki suasana yang bersih, tertata, dan jauh dari kemacetan. “Saya merasa kota ini menarik. Alamnya masih bagus dan lingkungannya juga nyaman,” katanya.

Setelah melalui proses seleksi yang berlangsung sekitar tiga minggu, Prima Firmana akhirnya resmi dipercaya menjadi General Manager hotel tersebut dan menjadi GM kelima sejak hotel itu berdiri. Awalnya ia hanya berencana bekerja selama satu atau dua tahun di Palangka Raya sebelum kembali ke Jawa. Namun waktu berjalan begitu cepat hingga kini ia telah hampir lima tahun menetap di kota tersebut.

Dalam perjalanannya memimpin hotel, berbagai tantangan tentu harus dihadapi. Salah satu yang paling terasa adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM). Ia mengakui bahwa pada awal masa kepemimpinannya cukup sulit membangun standar kerja yang sesuai dengan standar industri perhotelan.

“Awalnya memang cukup berat. Tapi dengan pelatihan, komunikasi, dan pembinaan secara bertahap, kualitas tim sekarang jauh lebih baik,” jelas Prima Firmana. Selain persoalan SDM, tantangan lain yang dihadapi industri perhotelan di Palangka Raya adalah struktur pasar yang masih terbatas.

Menurutnya, sekitar 80 persen pasar hotel di kota tersebut berasal dari sektor pemerintahan. Kondisi ini membuat industri perhotelan sangat bergantung pada kegiatan rapat, seminar, maupun aktivitas Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Ketika terjadi kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, dampaknya langsung terasa pada tingkat hunian hotel. “Kondisi ekonomi sekarang hampir mirip seperti masa pandemi. Bedanya, dulu karena pembatasan aktivitas, sekarang lebih karena daya beli masyarakat yang menurun,” ujarnya. Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang lebih memilih menghabiskan akhir pekan di kota lain seperti Banjarmasin. Hal ini menyebabkan perputaran ekonomi daerah tidak maksimal.

“Kalau lebih banyak tempat wisata, pusat hiburan, atau pusat belanja di sini, tentu uang masyarakat bisa berputar di Palangka Raya,” katanya. Meski demikian, ia tetap optimistis masa depan kota ini akan terus berkembang, terutama dengan adanya pembangunan berbagai fasilitas publik dan ikon kota baru.

Di tengah tantangan industri, ia juga berkomitmen menjaga kesejahteraan karyawan. Saat ini hotel yang dipimpinnya mempekerjakan sekitar 60 orang, termasuk karyawan kontrak dan harian. Baginya, pengurangan tenaga kerja bukanlah keputusan yang mudah diambil. “Kami selalu berusaha mencari solusi lain sebelum mengambil keputusan itu. Karena setiap karyawan memiliki keluarga yang bergantung pada mereka,” ujar Prima Firmana.

Selain fokus pada operasional bisnis, pihak hotel juga aktif menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), seperti kegiatan berbagi sembako serta kegiatan keagamaan bagi karyawan. Menurut Prima Firmana, industri perhotelan memberikan pengalaman kerja yang sangat beragam karena memungkinkan seseorang bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.

“Di hotel kita bisa bertemu pejabat, pengusaha, hingga tokoh nasional. Setiap hari selalu ada cerita baru,” tuturnya. Bagi dirinya, perjalanan karier yang ia jalani menjadi bukti bahwa kesempatan bisa datang dari arah yang tidak pernah disangka. “Awalnya saya tidak pernah membayangkan bekerja di hotel. Tapi justru di sinilah saya menemukan perjalanan karier yang sangat berarti,” pungkas Prima Firmana. (pra)

https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Related Articles

Back to top button