BeritaKALTENGNASIONALPalangka RayaPEMKO PALANGKA RAYA

Antrean BBM Masih Mengular, Pertamina Perpanjang Operasional SPBU di Palangka Raya

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Meski penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi telah diberlakukan sejak 4 Mei 2026, antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palangka Raya masih terus terjadi.

Di beberapa titik SPBU, antrean kendaraan bahkan terlihat mengular sejak pagi hingga malam hari. Tingginya mobilitas masyarakat serta meningkatnya kebutuhan bahan bakar menjadi faktor utama yang menyebabkan kepadatan sulit dihindari.

Sales Branch Manager Kalteng 1 Fuel, Hari Harjunadi, menegaskan bahwa Pertamina hanya bertugas sebagai penyalur BBM, sementara kebijakan penetapan harga sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah pusat. “Untuk penetapan harga bukan kewenangan kami. Pertamina hanya menjalankan distribusi dan penyaluran sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Hari, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, penyesuaian harga kali ini hanya berlaku untuk BBM non-subsidi jenis Dexlite dan Pertamina Dex. Sementara harga Pertamax masih tetap berada di angka Rp12.600 per liter dan belum mengalami perubahan. Sebagai langkah mengurangi kepadatan antrean, Pertamina melakukan optimalisasi layanan dengan memperpanjang jam operasional sejumlah SPBU di wilayah Palangka Raya.

SPBU Tjilik Riwut Kilometer 12 kini melayani masyarakat selama 24 jam penuh. Sedangkan beberapa SPBU lainnya, seperti di Jalan Yos Sudarso, Diponegoro, Soekarno, dan Imam Bonjol, juga diperpanjang waktu operasionalnya hingga malam hari.

Menurut Hari, langkah tersebut dilakukan agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan waktu untuk melakukan pengisian BBM sehingga antrean tidak terpusat di jam tertentu.Namun demikian, antrean masih kerap terjadi terutama pada jam sibuk, seperti pagi hari saat aktivitas kerja dimulai, hingga sore hari ketika mobilitas masyarakat meningkat.

Selain tingginya aktivitas kendaraan, faktor selisih harga BBM juga dinilai masih memengaruhi kondisi di lapangan. Sebelumnya, perbedaan harga antara solar industri dan Dexlite sempat mencapai hampir Rp10 ribu per liter. Meski kini selisihnya menyempit menjadi sekitar Rp3 ribu hingga Rp4 ribu, dampaknya masih terasa terhadap pola pembelian masyarakat.

Hari menambahkan, kebiasaan masyarakat yang cenderung memilih mengisi BBM di SPBU tertentu juga menjadi penyebab antrean menumpuk pada beberapa lokasi favorit. “Kami mengimbau masyarakat agar dapat memanfaatkan SPBU lain yang stoknya juga tersedia, sehingga antrean bisa lebih merata dan pelayanan menjadi lebih cepat,” pungkasnya. (pra)

Related Articles

Back to top button