Efek Domino Konflik AS-Iran: Stabilitas Pasar Minyak Diprediksi Terganggu hingga 2027

KALTENG.CO-Pasar energi global kembali diguncang ketidakpastian. Setelah sempat mengalami penurunan hingga lebih dari 5 persen, harga minyak dunia kini melonjak tajam di atas 3 persen.
Pergerakan fluktuatif ini dipicu oleh memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keamanan jalur distribusi energi paling vital di dunia: Selat Hormuz.

Mengutip data dari The Economic Times, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global merangkak naik hingga menyentuh angka USD 91,71 per barel pada perdagangan Kamis (28/5/2026).
Lonjakan instan ini terjadi tepat setelah munculnya laporan mengenai serangan terbaru militer AS terhadap target-target strategis Iran di sekitar Selat Hormuz.
Kronologi Saling Serang AS vs Iran di Jalur Logistik Global
Situasi di lapangan bergerak sangat cepat dan dinamis. Menurut laporan kantor berita semi-resmi Tasnim, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan balasan ke pangkalan udara milik AS sekitar pukul 04.50 waktu setempat.
Meski demikian, pihak IRGC masih merahasiakan lokasi pasti pangkalan yang menjadi target operasional mereka.
Di kubu berseberangan, pejabat Amerika Serikat memberikan konfirmasi bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) berhasil mencegat dan menembak jatuh empat drone serang satu arah milik Iran yang dinilai mengancam keamanan maritim.
Tidak berhenti di situ, militer AS juga melancarkan serangan preventif terhadap stasiun kendali darat Iran di wilayah Bandar Abbas. Fasilitas tersebut ditengarai sedang mempersiapkan peluncuran drone kelima.
Rangkaian Operasi “Bela Diri” dan Respons IRGC
Ketegangan terbaru ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari aksi militer AS beberapa hari sebelumnya. Washington menyebut operasi di Iran selatan tersebut sebagai langkah “bela diri” untuk:
Menargetkan kapal-kapal yang diduga kuat berniat memasang ranjau di jalur pelayaran internasional.
Menghancurkan situs-situs peluncuran rudal yang mengancam kapal komersial.
Melindungi personel militer Amerika yang bertugas di kawasan tersebut.
Merespons tindakan ini, IRGC menegaskan tidak akan tinggal diam. Mereka menyatakan siap membalas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata, setelah mendeteksi adanya drone pengintai dan jet tempur F-35 milik AS yang menyusup ke wilayah udara Iran.
Di tengah ketegangan ini, Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan komentar satir dengan menyebut bahwa Iran saat ini sedang “bernegosiasi dengan sisa-sisa bahan bakar”.
Ancaman Krisis Pasokan: Stok Minyak Global Menyusut Tajam
Konflik geopolitik ini berdampak langsung pada fundamental pasar. Bank investasi terkemuka asal Swiss, UBS, mengeluarkan peringatan keras mengenai meningkatnya tekanan pada pasar minyak global akibat menyusutnya cadangan minyak dunia.
Catatan Krisis UBS: Persediaan minyak global dilaporkan telah merosot sekitar 246 juta barel sepanjang periode Maret hingga April. Jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut, akumulasi kerugian produksi global diproyeksikan bisa menembus angka 1 miliar barel pada akhir Mei.
Para analis komoditas menilai, sekalipun kesepakatan damai bisa dicapai dalam waktu dekat, proses normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz akan memakan waktu berbulan-bulan. Kerusakan pada infrastruktur energi di kawasan tersebut memerlukan waktu pemulihan yang tidak sebentar.
Dampak Jangka Panjang: “Perlombaan Melawan Waktu”
Pandangan pesimistis juga datang dari para petinggi industri energi. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, sebelumnya sudah memperingatkan bahwa pemulihan stabilitas pasar minyak bisa molor hingga tahun 2027 jika gangguan di Selat Hormuz bersifat berkepanjangan. Efek domino dari penutupan jalur ini berpotensi mengacaukan pasokan hingga 100 juta barel per minggu.
Sementara itu, lembaga keuangan Morgan Stanley menggambarkan situasi pasar saat ini seperti sebuah “perlombaan melawan waktu”.
Selama ini, kenaikan harga minyak yang terlalu ekstrem memang sempat diredam oleh dua faktor utama:
Melonjaknya volume ekspor minyak mentah dari Amerika Serikat.
Melemahnya permintaan energi dari Tiongkok akibat perlambatan ekonomi.
Namun, Morgan Stanley mengingatkan bahwa benteng penahan tersebut bisa kehilangan taringnya.
Jika Selat Hormuz tetap terisolasi atau tertutup hingga bulan Juni, pasokan energi global dipastikan akan kembali mencekik pasar dan berpotensi mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi lagi. (*/tur)



