Rivalitas Portugal vs Spanyol: Kisah Kelam Saat Sepak Bola Iberia Jadi Alat Politik Franco

KALTENG.CO-Panggung babak 16 besar Piala Dunia 2026 akan menyajikan salah satu duel paling panas di jagat sepak bola: Derbi Iberia antara Timnas Portugal dan Timnas Spanyol. Bentrokan dua raksasa Eropa ini dijadwalkan berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Amerika Serikat, pada Selasa (7/7/2026).
Di atas lapangan, laga ini adalah perang bintang antara generasi emas Lamine Yamal melawan ambisi terakhir Cristiano Ronaldo demi tiket perempat final. Namun, jauh di luar garis lapangan, rivalitas dua negara bertetangga ini menyimpan lembaran sejarah kelam.
Sepak bola di Semenanjung Iberia pernah menjadi alat propaganda politik yang kotor, melibatkan perang saudara, rezim diktator, hingga manipulasi kekuasaan pada tahun 1937.
Mengapa Rivalitas Portugal vs Spanyol Bermuatan Politik Kuat?
Hubungan antara Portugal dan Spanyol tidak sekadar urusan kedekatan geografis. Jika kita menarik garis waktu mundur ke dekade 1930-an, kedua negara ini sama-sama dicengkeram oleh rezim otoriter yang sangat kuat dan saling mendukung.
Ketika Perang Saudara Spanyol berkecamuk (1936–1939), kehidupan sosial masyarakat hancur total. Negara tersebut terpecah menjadi dua kubu:
Kubu Republik (yang didukung kelompok kiri dan Uni Soviet).
Pasukan Nasionalis di bawah komando diktator militer, Francisco Franco.
Di tengah desing peluru dan pertumpahan darah, kredo bahwa “politik harus dipisahkan dari sepak bola” runtuh total. Lapangan hijau justru disulap menjadi panggung diplomasi dan alat untuk mencari pengakuan internasional.
Francisco Franco dan Strategi Propaganda Lapangan Hijau
Selama ini, sejarah lebih sering mencatat bagaimana Timnas Basque atau klub Barcelona melakukan tur internasional ke Eropa dan Amerika Latin untuk menggalang dana bagi Kubu Republik. Namun, sisi sebaliknya jarang diungkap: bagaimana Jenderal Francisco Franco memanfaatkan sepak bola demi melegitimasi kekuasaannya?
Menjelang duel Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026, memori kolektif kita dibawa kembali ke bulan November 1937 di Kota Vigo. Saat itu, perang belum sepenuhnya usai, tetapi pasukan Franco mulai berada di atas angin setelah merebut wilayah industri Asturias dan memojokkan pasukan Republik ke arah Barcelona.
Untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pemerintahannya adalah otoritas sah di Spanyol, Franco menginisiasi sebuah pertandingan sepak bola simbolis melawan tetangga mereka, Portugal.
Aliansi Dua Diktator: Dukungan Salazar untuk Franco
Di seberang perbatasan, Portugal kala itu dipimpin oleh diktator António de Oliveira Salazar yang berkuasa sejak 1932. Salazar merupakan sekutu dekat Franco. Dukungannya tidak main-main; diperkirakan ada sekitar 8.000 hingga 12.000 sukarelawan asal Portugal yang turun ke medan perang untuk membantu pasukan nasionalis Franco.
Bagi Franco dan Salazar, laga sepak bola antara Spanyol dan Portugal di Vigo tahun 1937 bukan sekadar olahraga hiburan. Itu adalah sebuah pernyataan politik:
“Kami ada, kami stabil, dan kami mengendalikan negara.”
Sikap FIFA: Menolak tapi Membiarkan
Melihat kentalnya muatan politik, FIFA mengambil posisi abu-abu. Di satu sisi, badan sepak bola dunia tersebut menolak mengakui laga tahun 1937 itu sebagai pertandingan resmi demi menjaga netralitas di tengah perang saudara. Ada dua federasi sepak bola yang mengklaim diri sebagai perwakilan Spanyol saat itu—versi Franco dan versi Republik—dan FIFA emoh memilih salah satu.
Namun di sisi lain, akibat lobi kuat dari federasi sepak bola Italia dan Jerman (yang juga dipimpin rezim fasis), FIFA tidak melarang pertandingan tersebut. Laga pun tetap digelar menggunakan pemain-pemain yang berada di wilayah kekuasaan militer Franco.
Peta Kekuatan yang Terpecah akibat Perang
Pada era 1930-an, kiblat sepak bola Spanyol sebenarnya berpusat di wilayah Basque, Madrid, dan Barcelona. Namun, karena perang membelah negara menjadi dua blok, mengumpulkan pemain terbaik adalah hal yang mustahil. Banyak pesepak bola yang mengungsi atau terjebak di wilayah konflik.
Tim Spanyol bentukan Franco yang menghadapi Portugal saat itu murni dipilih berdasarkan afiliasi wilayah geopolitik. Meskipun secara kualitas teknis tetap kompetitif, esensi utama dari tim tersebut adalah nilai politisnya yang sangat pekat.
Dari Legitimasi Rezim Menuju Kejayaan di Arlington
Hampir sembilan dekade telah berlalu sejak laga penuh intrik di Vigo tersebut. Hari ini, Portugal dan Spanyol kembali berhadapan di panggung termegah, Piala Dunia 2026.
Satu hal yang pasti: narasi besarnya telah berubah total.
Dahulu: Sepak bola dimainkan demi pengakuan sebuah rezim diktator yang haus legitimasi.
Sekarang: Kedua tim murni bertarung demi supremasi taktik, genggaman trofi emas, dan tiket menuju babak perempat final.
Kendati masa-masa kelam itu sudah lama terkubur, sejarah rivalitas Iberia ini menjadi bukti nyata bahwa sepak bola sering kali merekam, merefleksikan, dan menjadi saksi bisu dari dinamika sosial politik sebuah peradaban. Duel di AT&T Stadium nanti bukan hanya tentang taktik lapangan, melainkan sebuah babak baru dari sejarah panjang dua bangsa yang takkan pernah bisa dipisahkan. (*/tur)



