Suhu Udara Panas di Palangka Raya Capai 36°C, BMKG: Dampak Kemarau dan El Nino

PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Suhu udara yang terasa semakin menyengat dalam beberapa pekan terakhir di Kota Palangka Raya dan sejumlah wilayah Kalimantan Tengah menjadi perhatian masyarakat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi tersebut merupakan dampak kombinasi musim kemarau, berkurangnya tutupan awan, serta pengaruh fenomena El Nino yang memperpanjang musim kering tahun ini.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Lian Adriani menjelaskan, berkurangnya tutupan awan membuat sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak hambatan.
Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara meningkat dan cuaca terasa lebih terik, terutama pada siang hingga sore hari.
“Cuaca panas yang dirasakan masyarakat saat ini dipengaruhi oleh berkurangnya tutupan awan sehingga intensitas penyinaran matahari ke permukaan bumi menjadi lebih maksimal. Selain itu, Kalimantan Tengah sudah memasuki musim kemarau sehingga cuaca cerah lebih sering terjadi,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Menurut Lian, karakteristik musim kemarau memang identik dengan udara yang lebih kering dan kelembapan yang menurun. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat suhu terasa lebih panas meski masih berada dalam batas normal klimatologis. Ia menegaskan kondisi tersebut merupakan pola iklim tahunan yang lazim terjadi setiap musim kemarau.

“Selain faktor musiman, fenomena El Nino tahun ini turut memperkuat kondisi cuaca panas di Kalimantan Tengah. Dampaknya, musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal sehingga periode cuaca panas juga menjadi lebih lama,” jelasnya.
Meski demikian, BMKG mencatat suhu udara maksimum di Kalimantan Tengah selama Juli masih berada pada kisaran normal, yakni antara 33 hingga 35 derajat Celsius. Dalam kondisi tertentu, suhu udara diprakirakan masih dapat mencapai sekitar 36 derajat Celsius, terutama saat cuaca cerah berlangsung sepanjang hari.
“Suhu maksimum yang kami amati masih berada dalam kisaran normal untuk bulan Juli. Namun masyarakat tetap akan merasakan cuaca lebih terik karena minimnya tutupan awan dan kelembapan udara yang menurun. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung hingga musim kemarau berakhir sekitar Oktober sampai November,” katanya.
Di sisi lain, BMKG mengingatkan bahwa menurunnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Apalagi, sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah mulai dilaporkan mengalami kebakaran yang memunculkan kabut asap dan berpotensi menurunkan kualitas udara.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun. Selain itu, apabila kualitas udara mulai menurun akibat asap karhutla, masyarakat sebaiknya menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
“Jangan lupa menjaga kesehatan, memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari langsung, serta rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG,” pungkasnya. (oiq)




