WFH Bikin Makin Stres? Jangan-Jangan Kamu Terjebak Kebiasaan People Pleasing

KALTENG.CO-Sistem Work From Home (WFH) dan pola kerja fleksibel telah mengubah peta dunia kerja modern secara fundamental. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada tolok ukur produktivitas harian, tetapi juga merombak dinamika interaksi sosial para pekerja.
Saat bekerja tatap muka di kantor, seseorang memiliki panggung yang luas untuk membangun citra diri melalui interaksi langsung, gestur tubuh, hingga basa-basi di sela jam kerja. Namun ketika koordinasi beralih ke layar digital, ruang interaksi menyempit. Komunikasi kini berfokus pada hasil akhir, transparansi tugas, dan efisiensi.
Menariknya, pergeseran lingkungan kerja ini kerap kali “membongkar” kebiasaan orang-orang yang memiliki kecenderungan selalu ingin menyenangkan semua orang. Dalam dunia psikologi, perilaku yang mengutamakan harapan orang lain di atas kebutuhan dan batas diri sendiri ini dikenal dengan istilah people pleasing.
Menjadi rekan kerja yang ramah dan kooperatif tentu hal yang positif. Namun, ketika dorongan untuk menyenangkan orang lain dilakukan secara berlebihan, dampaknya tidak main-main: mulai dari stres kronis, kelelahan emosional (burnout), hingga kehilangan identitas diri. Sistem kerja dari rumah justru menjadi cermin jernih yang memantulkan pola tersebut secara transparan.
Dilansir dari Psychology Today, berikut adalah tujuh alasan psikologis mengapa pola kerja WFH dapat menyingkap kebiasaan people pleasing yang selama ini tersembunyi.
1. Hilangnya “Panggung” Basa-Basi dan Validasi Langsung
Di kantor fisik, seorang people pleaser mengandalkan senyuman, kontak mata, dan bantuan-bantuan kecil secara langsung untuk mendapatkan respon positif atau validasi dari rekan kerja. Dalam format WFH, panggung sosial tersebut lenyap. Komunikasi yang serba singkat via pesan teks atau surel membuat mereka kehilangan sinyal validasi instan, yang pada akhirnya memicu kecemasan berlebih.
2. Sulitnya Menetapkan Batas Waktu Kerja (Work-Life Boundaries)
Bagi mereka yang sulit berkata “tidak”, WFH menjadi tantangan ganda. Tanpa batasan fisik antara ruang pribadi dan ruang kerja, people pleaser cenderung selalu siap sedia membalas pesan atau menerima tugas tambahan di luar jam kerja demi terlihat rajin dan selalu bisa diandalkan.
3. Fenomena Over-Communicating Akibat Rasa Cemas
Takut dianggap santai atau tidak bekerja saat dari rumah, pelaku people pleasing kerap melakukan komunikasi berlebihan (over-communication). Mereka merasa wajib merespons pesan secara instan, menghadiri setiap rapat virtual meskipun tidak relevan, hingga melaporkan setiap detail kecil pekerjaan hanya untuk menenangkan kekhawatiran mereka sendiri.
4. Teror Overthinking dari Komunikasi Teks
Pesan singkat tanpa nada suara atau ekspresi wajah sering kali ditafsirkan secara berlebihan oleh seorang people pleaser. Kalimat singkat dari atasan seperti “Bisa bicara sebentar?” dapat berubah menjadi beban pikiran yang memicu stres sepanjang hari karena ketakutan telah mengecewakan orang lain.
5. Jejak Digital Pekerjaan yang Lebih Transparan
Kerja dari rumah menuntut transparansi berbasis data dan hasil nyata (output-based). Di sini, topeng popularitas sosial tidak lagi bisa menutupi performa kerja. Ketika kontribusi diukur dari hasil, kecenderungan untuk memuaskan orang lain lewat pencitraan sosial menjadi tidak lagi relevan dan justru menguras energi.
6. Minimnya Feedback Emosional Secara Real-Time
Interaksi virtual kerap kehilangan nuansa empati spontan. Seorang people pleaser yang biasanya membaca bahasa tubuh lawan bicara untuk menyesuaikan perilakunya kini kehilangan kompas tersebut. Ketidakpastian ini membuat mereka terus-menerus menduga-duga ekspektasi orang lain, yang berujung pada kelelahan mental.
7. Tekanan Membuktikan Diri Tanpa Pengawasan Langsung
Tanpa kehadiran fisik atasan, ada dorongan konstan untuk membuktikan bahwa mereka bekerja lebih keras dari siapapun. Rasa bersalah jika terlihat “santai” mendorong mereka mengambil beban kerja berlebih, mengorbankan waktu istirahat demi menjaga persepsi positif di mata tim.
Mengubah WFH Menjadi Momentum Menetapkan Batasan Diri
Membongkar kebiasaan people pleasing selama WFH sebenarnya adalah langkah awal yang krusial untuk pemulihan kesehatan mental. Menyadari bahwa dinamika kerja digital berfokus pada profesionalisme dan hasil—bukan pada upaya menyenangkan semua pihak—dapat membantu seseorang membangun batasan (boundaries) yang lebih sehat.
Memahami batasan kapasitas diri, berani berkata tidak secara profesional, dan memisahkan antara nilai diri dengan ekspektasi orang lain adalah kunci utama untuk menciptakan keseimbangan kerja dan kehidupan (work-life balance) yang berkelanjutan. (*/tur)



