BeritaKALTENGPalangka RayaPeristiwaUtama

Listrik Byarpet! Satu Kandang Ayam Broiler Mati Massal, Kantor PLN Palangka Raya Dikirim Ribuan Bangkai Ayam

PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Dampak pemadaman listrik bergilir yang berkepanjangan mulai menghantam sektor peternakan ayam broiler di Kalimantan Tengah.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Kalimantan Tengah, Andi Bustan, menyebut kondisi tersebut membuat peternak berada di ambang kolaps karena harus menghadapi kematian ayam dalam jumlah besar saat masa panen.

Menurut Andi, persoalan yang dihadapi peternak tidak hanya berasal dari pemadaman listrik. Sebelum gangguan pasokan listrik terjadi, harga ayam hidup di tingkat peternak sudah lebih dulu terpuruk hingga menyentuh kisaran Rp18.000 per kilogram. Kondisi itu diperparah dengan matinya listrik yang membuat sistem kandang modern tidak dapat beroperasi secara normal.

“Saya sebenarnya sudah mengingatkan sejak dulu bahwa akan ada saatnya para peternak ini kolaps. Sebelumnya harga ayam sudah jatuh sampai Rp18.000 per kilogram. Sekarang ditambah lagi persoalan listrik yang terus padam setiap hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, produksi ayam broiler di Palangka Raya mencapai sekitar 23 ribu ekor per hari dan sekitar 90 persen berasal dari peternakan dengan sistem close house yang sepenuhnya bergantung pada listrik untuk mengoperasikan blower dan sistem sirkulasi udara. Jika pasokan listrik terhenti, ayam berisiko mati dalam waktu singkat akibat kekurangan oksigen.

“Kalau listrik padam dan misalnya 50 persen ayam mati, maka beberapa waktu ke depan harga ayam kemungkinan akan melonjak karena produksinya berkurang. Itu dari sisi pasokan,” katanya.

Andi menuturkan, kerugian yang dialami peternak sangat besar karena keuntungan bersih yang diterima hanya sekitar Rp6.000 per ekor ayam. Padahal ayam telah dipelihara selama 35 hingga 40 hari sebelum memasuki masa panen.

Apabila terjadi kematian massal akibat listrik padam, peternak tidak hanya kehilangan modal, tetapi juga penghasilan yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarga.

Ia mengungkapkan, satu kandang berkapasitas sekitar 40 ribu ekor ayam dapat mengalami kerugian hingga Rp360 juta apabila angka kematian mencapai sekitar 50 persen. Nilai kerugian itu akan terus membesar apabila seorang peternak memiliki beberapa kandang sekaligus.

“Kalau ditanya kerugian, satu kandang dengan kapasitas 40 ribu ekor bisa mengalami kerugian sekitar Rp360 juta. Itu baru satu kandang. Bayangkan kalau satu peternak memiliki lima sampai sepuluh kandang, kerugiannya bisa mencapai miliaran rupiah,” tegasnya.

Selain mendesak PLN memperbaiki keandalan pasokan listrik, Andi meminta adanya pemetaan wilayah pemadaman agar kawasan yang memiliki sentra peternakan tidak menjadi prioritas pemadaman. Ia juga mendorong PLN menyiapkan solusi alternatif, seperti penyediaan genset berkapasitas besar selama proses perbaikan jaringan berlangsung.

“Karena itu saya mengimbau kepada PLN agar melakukan pemetaan. Jangan asal memadamkan satu blok demi satu blok. Lihat dulu apakah di wilayah tersebut terdapat peternakan dengan puluhan ribu ekor ayam atau berikan solusi seperti penyediaan genset berkapasitas besar,” ucapnya.

Lebih lanjut, Andi menyebut persoalan genset bukanlah solusi sederhana seperti yang banyak dipersepsikan. Menurutnya, hampir seluruh peternakan close house telah memiliki genset, namun operasionalnya sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar.

Sementara sebagian besar peternakan berada jauh dari SPBU, sehingga sulit memenuhi kebutuhan solar ketika pemadaman berlangsung berulang dan dalam waktu lama.

Di sisi lain, Andi mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 12 perusahaan integrator yang beroperasi di Kalimantan Tengah dengan jumlah peternak mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 orang yang tersebar di berbagai kabupaten. Ia tidak menutup kemungkinan peternak menempuh jalur hukum apabila persoalan pemadaman listrik terus berlanjut tanpa solusi yang jelas.

“Semua kandang close house sebenarnya sudah memiliki genset. Persoalannya bukan ada atau tidak ada genset, tetapi dari mana bahan bakarnya ketika pemadaman terjadi terus-menerus. Kami berharap PLN segera menghadirkan solusi nyata agar peternak tidak terus menjadi pihak yang paling dirugikan,” pungkasnya. (oiq)

Related Articles

Back to top button