OPINI

Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045

Guru dan orang tua adalah arsitek pembelajaran dalam mendidik anak bangsa yang senantiasa perlu memastikan  mereka mampu mengakses konten pembelajaran. Lebih-lebih di tengah krisis multidimensi yang menghantam Indonesia akhir-akhir ini.

Tentu tangan dingin guru dan orang tua sebagai pembentuk karakter peserta didik sangat dirindukan. Pendidik anak bangsa yang sejati adalah para guru dan orang tua yang mampu mengokohkan ikatan persatuan dan kesatuan, menumbuhkan empati sosial dan menanamkan nilai-nilai kebaikan pada peserta didik. 

Optimisme untuk mencerdaskan anak bangsa dalam pembelajaran dapat diwujudkan dengan selalu mengaitkan hal-hal yang dipelajari dengan dunia nyata di luar sekolah. Kreativitas dan imajinasi anak bangsa yang dikonstruksikan dengan pendidikan budi pekerti serta semangat toleransi akan menguatkan bahtera pendidikan Indonesia di tengah gelombang sebesar apapun.

Tantangan yang siap menghadang di depan mata seperti materi PISA (Programme for International Student Assessment) dan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) serta globalisasi seperti APEC (Asia-Pasific Economic Cooperation) , AFTA (ASEAN Free Trade Area) , ASEAN Community dan WTO (The World Trade Organization) perlu dihadapi dengan optimistis tanpa ada kata berhenti atau menyerah

Kita menyadari bahwa learning being a journey not a destination yaitu pembelajaran  adalah sebuah proses dan bukan sekadar tujuan. Sebagai sebuah proses maka pembelajaran harus dilakukan terus-menerus dan sebenarnya tidak akan pernah berhenti selama kita masih hidup  (Bilveer Singh, 2004).

Sebagaimana sokongan pemerintah kepada dunia pendidikan tak pernah berhenti mengalir seperti lewat upaya penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP), pembangunan unit sekolah baru dan ruang kelas baru, peningkatan sarana dan prasarana,program gizi anak sekolah (progas), program revitalisasi SMK, program Satu Desa Satu Pendidikan Anak Usia Dini, pemberian tunjangan profesi guru, dana riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Bidik Misi, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), afirmasi untuk memajukan pendidikan di Papua dan Papua Barat dan lain sebagainya.

Dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hadir berkesinambungan untuk satuan pendidikan yang membutuhkan. Bahkan investasi besar-besaran yaitu seperlima anggaran negara dalam 10 tahun terakhir untuk pendidikan terus meningkat di tengah strategi pembangunan yang telah bergeser dari pembangunan infrastruktur fisik menjadi pembangunan sumber daya manusia (SDM) sesuai komitmen Presiden Jokowi.

Hal ini bertujuan agar pembangunan manusia Indonesia berhasil dengan kualitas nyata, kian kompetitif dan  menghindari jangan sampai ada lagi anak bangsa tertinggal dalam pendidikan atau putus sekolah karena faktor biaya. Bagaimanapun, pendidikan adalah hak sosial setiap individu yang mendapat jaminan UUD 1945 pasal 31 ayat 2, 3 dan 4.

Praktis, pembenahan sistem pendidikan Indonesia membutuhkan kombinasi yang baik antara cetak biru (blueprint) mengenai output sistem pendidikan atau grand design mengenai konsep pendidikan di Indonesia dan dana pendidikan dari APBN dan APBD.

Lebih-lebih APBN dalam dunia pendidikan di masa pemulihan ekonomi nasional akibat dampak pandemi merebaknya virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 harus ada pembenahan atau perombakan  meski pelik demi perbaikan sistem dan tata kelola.  Pembangunan  zona-zona integritas dan reformasi birokrasi hampir di semua lini adalah keniscayaan. 

Dalam lingkup manajemen sekolah (running management of school) belanja pendidikan untuk operasional sekolah, perbaikan kurikulum dan peningkatan kapasitas guru dapat difokuskan pada tuntutan kondisi di tengah pandemi.

Mempertahankan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di negara besar dengan demografi luas seperti Indonesia, sehingga angkanya selalu naik secara berkesinambungan bukanlah perkara mudah. Datangnya tamu tak diundang bernama corona dapat menyumbat akses pendidikan yang tentu akan menghambat pembangunan kualitas manusia Indonesia.

Dalam kondisi mendesak seperti penangan Covid-19 di Indonesia, pejabat perbendaharaan dituntut melakukan tindakan yang berujung pada pengeluaran atas beban APBN yang dananya tidak tersedia dalam Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA).

Ini adalah pekerjaan rumah yang tidak mudah mengingat kebijakan tak populis dalam hal anggaran SDM tak bisa dinomorduakan, karena menyangkut kepastian masyarakat yang tetap sehat  dan kompetitif di ranah dunia.

Peningkatan partisipasi dan perluasan akses pendidikan dapat terus ditingkatkan meskipun terjadi economic hardship (kesulitan ekonomi), peningkatan pengangguran dan penurunan konsumsi masyarakat apabila aliran APBN dapat diarahkan tepat mengenai sasaran.

Kata kuncinya adalah lebih baik sedikit asal efektif dan efisien daripada banyak tetapi mubazir. Jaring pengaman sosial bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah (MBR), kredit pendidikan (student loan) atau dana fungsi pendidikan pada 20 kementerian yang tepat sasaran akan menjadi oase di gurun gersang. Pengawalan distribusi dan penggunaan Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dapat menjamin penggunaan anggaran fungsi pendidikan bisa lebih optimal dan terserap dengan baik (tidak hanya sent, tetapi harus delivered—meminjam istilah Presiden Jokowi)  dibantu sinkronisasi penggunaan anggaran fungsi pendidikan yang baik antara pusat dan daerah adalah jawaban terbaik.

Dimulai dari hal kecil dan sederhana sesuai peran kita masing-masing maka Indonesia dapat keluar dari turbulensi ekonomi dan bayang-bayang resesi ekonomi akibat pandemi. Tenaga pendidik dapat menjadi nakhoda kapal  dengan melakukan langkah-langkah strategis di tingkat akar rumput.

Model pelatihan guru yang sebelumnya terpusat dapat diganti dengan yang berbasis zonasi. Penguatan peranan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Guru (KKG), atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) serta peningkatkan kemampuan dan dedikasi tenaga pendidik untuk siap membangun dari pinggiran harus dimulai dari yang paling parah, paling rusak kemudian yang  baik.

Optimisme untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia dalam upaya menyongsong Indonesia Emas 2045 secara sistematis dan terarah makin membara didukung APBN yang terus mendorong daya saing dan investasi melalui pembangunan manusia.

Peningkatan kualitas guru dan orang tua, serta optimalisasi kurikulum pendidikan akan membawa perubahan signifikan dalam mewujudkan visi mencerdaskan kehidupan bangsa. Apabila guru dan orang tua senantiasa bersemangat meningkatkan kapasitas diri, tidak anti-kritik, optimistis, dan inovatif maka akan tercipta pembangunan manusia yang berkelanjutan, kuat dan inklusif.(*)

* Penulis adalah  pendidik dan peraih Terbaik III Apresiasi Guru Inovatif Tingkat Nasional 2020 dari Kemedikbud dan Guru Berdedikasi Tingkat Nasional 2020 dari PB PGRI

Related Articles

Back to top button