Bukan Salahmu! Kenali Cycle of Abuse untuk Keluar dari Hubungan yang Merusak Harga Diri

KALTENG.CO-Pernahkah seseorang dalam hidupmu, yang seharusnya mencintaimu, justru membuatmu meragukan hal-hal penting dalam hidupmu, atau bahkan harga dirimu sendiri? Jika iya, mungkin itu bukan hanya perasaanmu semata.
Kekerasan dalam hubungan tidak selalu ditunjukkan dengan teriakan keras, amarah yang meledak, atau kekerasan fisik yang kasat mata. Sering kali, ia bersembunyi di balik pesona, perhatian berlebihan, dan klaim cinta yang tulus.
Memahami pola tersembunyi ini sangat krusial. Psikolog Dr. Lenore Walker, pada tahun 1979, melalui wawancara mendalam dengan ratusan penyintas kekerasan dalam rumah tangga, menemukan adanya pola berulang yang terstruktur dalam hubungan yang abusif. Pola ini dikenal sebagai Siklus Kekerasan (Cycle of Abuse).
Siklus ini bisa mengambil bentuk kekerasan emosional, psikologis, verbal, finansial, maupun fisik. Ia mungkin tidak selalu berjalan secara linear, tetapi ia memiliki kecenderungan untuk berulang dalam lingkaran yang sama, menjebak korban dalam ikatan trauma (trauma bonding).
Berikut adalah lima tahapan kunci dalam Siklus Kekerasan yang wajib kamu pahami:
1. Tahap Love Bombing (Menunjukkan Cinta yang Bertubi-tubi)
Pada awal hubungan, segalanya terasa sempurna. Pasanganmu memberikan limpahan cinta, perhatian, pujian, dan hadiah yang berlebihan. Kamu merasa dipilih, dihargai, dan diinginkan—terutama jika kamu sedang berada dalam kondisi rentan seperti kesepian, kelelahan, atau baru saja berduka.
Namun, intensitas kasih sayang ini sering kali bukan tanda cinta sejati. Ini adalah teknik untuk menciptakan ketergantungan padanya. Tujuannya agar kamu cepat terikat, sehingga ketika sifat asli mereka muncul, kamu akan tetap bertahan dengan harapan masa-masa indah itu akan kembali. Ini adalah landasan awal dari manipulasi emosional.
2. Tahap Tension Building (Ketegangan Meningkat)
Setelah kehangatan yang berlebihan, suasana perlahan mulai berubah. Kamu merasakan hubungan menjadi rapuh. Pasangan mulai menunjukkan instabilitas emosional: nada bicara yang tajam, kesabaran yang menipis, dan suasana hati yang mudah berubah.
Kamu mulai berusaha menyesuaikan perilakumu agar tidak memicu kemarahan mereka. Sindiran yang merendahkan, lelucon yang menyakitkan, atau sikap dingin mulai mengikis kepercayaan dirimu. Komentar seperti, “Kamu terlalu sensitif,” atau “Kalau sayang aku, turuti saja,” membuatmu mulai menyalahkan diri sendiri. Di fase ini, ketidaknyamananmu diabaikan, dan ketegangan terus membangun menuju ledakan.
3. Tahap Incident (Insiden – Tahap Paling Berbahaya)
Inilah fase ketika ketegangan yang menumpuk meledak menjadi bentuk kekerasan yang nyata. Ini adalah tahap paling berbahaya karena di sinilah kamu akan kehilangan kepercayaan diri dan semakin kuat terikat secara traumatis.
Bentuk kekerasan di tahap ini beragam, bisa meliputi:
- Kekerasan Verbal: Hinaan, teriakan, ancaman, atau pelecehan.
- Kekerasan Emosional: Perlakuan diam (silent treatment), manipulasi, atau isolasi dari teman dan keluarga.
- Kekerasan Finansial: Mengontrol, membatasi, atau mengambil uangmu.
- Kekerasan Fisik: Mendorong, melempar barang, membanting pintu, atau memukul.
- Gaslighting: Memutarbalikkan fakta dan membuatmu meragukan ingatan serta kewarasanmu sendiri.
Gaslighting sering dikombinasikan dengan taktik DARVO (Deny, Attack, Reverse Victim and Offender): menyangkal perilaku buruk, menyerang balik korban, dan membalik peran sehingga korban terlihat sebagai pelaku. Akibatnya, kamu berpikir, “Mungkin aku memang bereaksi berlebihan,” padahal ini hanyalah respons trauma.



