AKHIR PEKANBeritaFAMILYHIBURANMETROPOLIS

Bukan Sekadar Misteri, ‘Don’t Call It Mystery’ Tampilkan Cara Unik Pecahkan Kasus Lewat Psikologi

KALTENG.CO-Banyak orang percaya bahwa menjadi detektif membutuhkan pelatihan fisik yang ketat dan kemampuan investigasi teknis yang mumpuni. Namun, dalam dunia kriminologi, ada satu tipe detektif yang jauh lebih langka: mereka yang memiliki kemampuan alami untuk melihat detail kecil yang terlewatkan oleh mata awam.

Salah satu representasi terbaik dari sosok ini adalah Totono Kuno, tokoh utama dalam drama Jepang fenomenal bertajuk Don’t Call It Mystery atau Mystery to Iunakare. Bukan seorang polisi maupun detektif swasta, Totono hanyalah seorang mahasiswa psikologi dengan gaya rambut afro yang mencolok dan kepribadian yang tertutup.

Mahasiswa Pendiam yang Menjadi Tersangka Pembunuhan

Cerita dimulai ketika Totono Kuno (diperankan dengan apik oleh Masaki Suda) tiba-tiba dibawa ke kantor polisi. Ia dituduh melakukan pembunuhan terhadap teman kampusnya. Ketua Penyelidik Yabu (Endo Kenichi) bersikeras bahwa Totono adalah pelakunya karena beberapa bukti keadaan.

Namun, Totono bukanlah mahasiswa biasa. Di balik sifatnya yang suka menyendiri dan tidak memiliki teman, ia memiliki ketenangan luar biasa serta kemampuan retorika yang tajam. Saat diinterogasi, Totono justru membalikkan keadaan dengan melayangkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang membuat para penyidik terpojok.

Senjata Utama: Kemanusiaan dan Analisis Psikologi

Dua detektif muda, Furomitsu (Sairi Itoh) dan Ikemoto (Matsuya Onoe), mulai merasa ada yang salah dengan tuduhan atasan mereka. Melalui interaksi yang tenang, Totono perlahan menunjukkan “sihirnya”.

Berbeda dengan detektif konvensional yang mencari bukti fisik semata, Totono menggunakan analisis psikologi dan empati. Ia mampu menebak masalah rumah tangga Ikemoto—bahwa istrinya sedang hamil dan mereka sedang bertengkar—hanya dengan melihat kerutan pada pakaian sang detektif yang tidak disetrika.

Keunggulan utama Totono adalah kemampuannya memanusiakan orang lain. Di lingkungan kepolisian yang kaku dan cenderung diskriminatif (seperti perilaku merendahkan terhadap detektif perempuan), kehadiran Totono membawa perspektif baru yang penuh kehangatan namun tetap logis.

Plot Twist: Ketika Penyelidik Menjadi Tertuduh

Kasus pembunuhan yang menimpa Totono akhirnya terpecahkan melalui fakta mengejutkan yang ia temukan. Totono berhasil mengungkap keterkaitan antara mobil milik korban yang dijual dengan kecelakaan tragis yang menewaskan anak dan istri Ketua Penyelidik Yabu.

Berkat ketelitiannya, posisi pun berbalik. Yabu yang awalnya adalah penyelidik, justru terseret ke dalam panggung penyelidikan sebagai pihak yang tertuduh. Keberhasilan ini membuat Totono menjadi “konsultan” tak resmi bagi kepolisian untuk memecahkan berbagai kasus sulit lainnya.


Adaptasi Manga Sukses dengan Rating Tinggi

Don’t Call It Mystery merupakan adaptasi dari seri manga populer karya Tamura Yumi yang telah berjalan sejak 2017. Hingga saat ini, manganya telah mencapai 15 volume dan terus mendapatkan apresiasi luas.

Kepopuleran dorama ini juga dibuktikan dengan angka-angka impresif di situs ulasan:

  • MyDramaList: 8.6/10
  • IMDb (Series): 7.6/10
  • Adaptasi Film (2023): 6.3/10 (IMDb)

Bagi Anda pencinta genre misteri yang tidak hanya mengandalkan aksi laga, tetapi lebih mengedepankan dialog cerdas dan permainan logika, dorama ini adalah tontonan wajib.

Totono Kuno mengajarkan kita bahwa misteri seringkali bukan tentang siapa yang melakukannya, tetapi mengapa dan bagaimana perasaan manusia terlibat di dalamnya. (*/tur)

Related Articles

Back to top button