AKHIR PEKANBerita

Katup Pelepasan bagi Bergunung-gunung Penderitaan

Penjual Sayap dan Istri Stalin bisa jadi bahan untuk lebih memperkenalkan sastra Amerika Latin ke Indonesia. Menancapkan pengaruh dengan bentuk tak linear, penjungkirbalikan latar waktu, serta perubahan penutur silih berganti.

PADA pertengahan abad ke-20, dimulai debut Seratus Tahun Kesunyian (1967), karya Gabriel Garcia Marquez alias Gabo. Dan sebelumnya, oleh Alejo Carpentier (1904–1980), novelis Kuba kelahiran Swiss yang wafat di Paris, lahirlah istilah lo real maravilloso yang menjadi cikal bakal sebutan realisme magis.

Berlanjut pada dekade sama, sekitar 1960–1970, imajinasi liar para sastrawan menjadi katup pelepasan bergunung-gunung penderitaan bagi penghuni bagian bumi yang bernama Amerika Latin. Penderitaan dari telapak kaki hingga ujung rambut oleh para penjajah yang silih berganti dan rezim militer yang haus darah.

Hal inilah yang diangkat dalam cerpen-cerpen begawan sastra di sana, terkumpul dalam satu buku Penjual Sayap dan Istri Stalin. Hingga kini enam sastrawan asal Amerika Latin telah memperoleh Nobel Sastra.

Sastrawan sebagai koloni yang menjadi avant-garde meneriakkan pembelaan terhadap yang lemah dan terzalimi hingga terdengar ke seluruh penjuru dunia. Lahirlah karya-karya intens yang merindingkan bulu roma dan membekukan hati nurani hingga ke titik nadir. Amerika Latin sebagai ladang pembantaian manusia dan kemanusiaan.

Tiga puluh lima cerpen dari 35 penulis Amerika Latin dalam buku ini selangkah lebih maju sebagai cetak biru perjalanan sebuah kawasan dibandingkan dengan sejarah yang banyak diokupansi oleh kepentingan politik. Masing-masing penulis yang sebagian besar lulusan universitas, bahkan ada beberapa guru besar, diwakili satu cerpen.

Jadilah Penjual Sayap dan Istri Stalin sebagai bahan untuk lebih memperkenalkan sastra Amerika Latin ke Indonesia. Tentu saja karya-karya ini sudah harum di seantero dunia lewat alih bahasa aslinya. Karya-karya dari Amerika Latin berhasil mendunia lewat upaya penerjemah berkualitas dan penerbit yang berdedikasi tinggi terhadap sastra.

”El Boom”, sebuah terma yang tertuju kepada gerakan literasi sekitar 1960 hingga 1970 oleh beberapa kelompok penulis Amerika Latin yang relatif muda, sedikit banyak dipicu ketegangan politik sebagai imbas perang dingin antara Blok Barat yang kapitalistis dan Blok Timur yang komunis. Dua ideologi ini bercokol dalam setiap kepala orang Amerika Latin yang menjadi ajang perebutan dua ideologi tersebut.

Telah kental dalam ingatan kita kemenangan Revolusi Kuba pimpinan Fidel Castro pada 1959. Gerakan revolusioner yang didukung oleh rakyat itu berhasil menggulingkan diktator Batista yang didukung Amerika Serikat.

1 2Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button