Katup Pelepasan bagi Bergunung-gunung Penderitaan

Cerpen ”Bentuk Pedang” Borges (halaman 96) mengisahkan bagaimana seorang John Vincent Moon yang komunis mengkhianati seorang prajurit Irlandia yang sebelumnya telah menyelamatkan nyawanya. Vincent mengisahkan ceritanya kepada Borges dalam pelariannya ke Brasil. Di tangan dingin Borges, ceritanya jadi sangat menarik. Dekat dengan cerita-cerita yang ditulis Martin Aleida.
”Sepuluh hari telah berlalu. Pada hari kesepuluh kota dikuasai oleh pasukan Inggris. Patroli berkuda memenuhi jalanan. Debu-debu beterbangan diembus angin. Di sudut sebuah jalan aku melihat sesosok mayat terbujur.
Sepintas mirip sebuah maneken serdadu yang digunakan untuk sasaran latihan menembak di tengah alun-alun. Hari itu aku pulang sebelum tengah hari.
Moon sepertinya sedang berbicara di perpustakaan. Dari nada suaranya aku tahu bahwa ia sedang menelepon. Aku mendengar namaku disebut-sebut, juga bahwa aku akan kembali pada pukul tujuh dan perintah untuk menangkapku saat aku melintasi taman. Rupanya kawanku telah menjualku! Aku sempat mendengar dia meminta jaminan atas keselamatannya (halaman 101).”
Corak ”El Boom” yang menjadi ikon kemajuan sastra Amerika Latin berciri modern dan magic-realism, dengan bentuk tak linear, penjungkirbalikan latar waktu, dan perubahan penutur silih berganti –yang memberontak dari pakem konvensional. ”El Boom” mengubah wajah sastra Amerika Latin untuk selamanya dan menancapkan pengaruh pada karya generasi selanjutnya.
Lucu, unik, penuh magis dan kegaiban ini yang mengisi alam cerpen yang bisa dibilang kolosal. Berbelok ke kiri dan kanan, melintang atau membujur, adalah keunikannya yang selalu ditunggu pembaca.
Cerpen ”Keringat” Jorge Amando (halaman 26) bercerita tentang nasib pengontrak rumah yang ujungnya marah dan melakukan kekerasan terhadap pemilik rumah.
”Joao menatap perempuan itu sejenak dengan sepasang bola mata membelalak. Lalu saat efek kata-kata keji perempuan itu melandanya, ruangan itu berubah gelap di matanya, dan dengan penuh amarah dia melayangkan tinjunya (halaman 32).”
Cerpen ”Kunci Surga” Myriam Warner-Vieyra (halaman 245) imagis sekaligus realis. Myriam memutuskan lajur berbeda dengan apa yang dipilih A.A. Navis dalam Robohnya Surau Kami.
Bagi Myriam, orang mati tak pernah hidup kembali. Hal ini yang membebaskan seorang penjual kunci surga asal Asia dari tuntutan pengadilan. Berbeda dengan apa yang ditulis Navis tentang Haji Saleh yang dalam mimpinya menyaksikan neraka.
Melihat keberhasilan mendunianya cerpen-cerpen Amerika Latin bisa menjadi pemicu penerjemahan cerpen-cerpen Indonesia seperti yang disebutkan dalam pengantar buku ini.
Di Indonesia, dalam beberapa aspek dan skala yang lebih kecil, fenomena ”El Boom” agak serupa dengan munculnya gairah penulisan sastra yang lebih ”terbuka”, terutama oleh para penulis perempuan, pasca tumbangnya rezim Soeharto. Namun sayang, gaungnya di kancah antarbangsa tak cukup kencang. (*)
—
*) NEVATUHELLA, Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya Perjuangan Menuju Langit (2016) dan buku puisinya Bila Khamsin Berhembus (2019). (Dikutip dari JawaPos.com/tur)
—
- Judul: Penjual Sayap dan Istri Stalin
- Penulis: 35 Penulis Amerika Latin
- Penerjemah: Anton Kurnia
- Penerbit: Diva Press
- Cetakan: Pertama, 2021
- Tebal: 276 halaman
- ISBN: 978-623-293-538-9



