
KALTENG.CO-Kekalahan menyakitkan 1-5 dari Borneo FC di Stadion Segiri, Sabtu (7/3/2026), meninggalkan luka mendalam bagi Persebaya Surabaya. Hasil minor ini bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan hantaman keras bagi ambisi Green Force untuk finis di posisi empat besar klasemen akhir Super League musim ini.
Secara statistik, kekalahan telak di Samarinda tersebut membuat probabilitas Persebaya menembus zona Championship Series merosot tajam, dari yang semula berada di angka 40% kini menyusut menjadi sekitar 25%.

Hitung-hitungan Matematis: Mencari 21 Poin dari 9 Laga
Meski berada di posisi sulit, asa itu belum sepenuhnya padam. Secara matematis, skuat asuhan Bernardo Tavares masih memiliki peluang, namun dengan catatan: Ruang kesalahan kini sudah tertutup rapat.
Untuk tetap bersaing di papan atas, Persebaya diprediksi harus mencapai safe zone di kisaran 60-an poin. Dengan sembilan pertandingan tersisa, ada maksimal 27 poin yang bisa diperebutkan. Namun, target paling realistis bagi Green Force untuk menjaga napas adalah mengamankan minimal 21 poin.
Artinya, Bruno Moreira dan kawan-kawan wajib menyapu bersih tujuh kemenangan dari sembilan laga sisa. Sebuah misi yang menuntut konsistensi baja dan mentalitas juara.
4 Laga Kandang: Benteng Terakhir di Surabaya
Kunci utama dari skenario 21 poin ini terletak pada laga kandang. Persebaya dijadwalkan akan menjamu lawan-lawan tangguh di Surabaya, yaitu:
Persita Tangerang
Madura United (Derbi Suramadu)
PSBS Biak
Persik Kediri (Derbi Jatim)
Menyapu bersih 12 poin dari empat laga kandang ini adalah harga mati. Kehilangan poin di markas sendiri akan secara otomatis menutup pintu menuju babak empat besar.
Ujian Mental di Laga Tandang: Persija hingga Arema FC
Jika poin kandang berhasil diamankan, tantangan sesungguhnya justru hadir saat melakoni laga away. Tiga laga tandang krusial sudah menanti:
Persija Jakarta (Duel Klasik)
Malut United (Rival Langsung di Papan Atas)
Arema FC (Derbi Super Jatim)
Pertandingan melawan Malut United diprediksi akan menjadi turning point. Mengingat kedua tim bersaing ketat di jalur yang sama, kemenangan di laga ini bisa mendongkrak kembali probabilitas kelolosan Persebaya hingga ke angka 60-70%.
Evaluasi Bernardo Tavares: Masalah Efektivitas dan Ruang Kosong
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, tidak menutup mata atas performa buruk di Segiri. Pelatih asal Portugal itu menegaskan akan melakukan bedah taktik secara menyeluruh.
“Kami punya beberapa peluang, tetapi hanya mampu mencetak satu gol. Sekarang kami harus melihat kembali pertandingan ini dan menganalisis apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Tavares.
Meski kalah telak, statistik menunjukkan Persebaya tetap memberikan perlawanan dengan melepaskan 13 tembakan (4 on target). Namun, efektivitas penyelesaian akhir menjadi “penyakit” yang harus segera disembuhkan.
Tavares mengakui bahwa pilihannya untuk tetap bermain menyerang saat tertinggal justru menjadi bumerang. “Kami memilih tetap menyerang daripada menyerah. Namun, saat kami membuka ruang, Borneo kembali mencetak gol,” tambahnya.
Dengan peluang yang kini hanya tersisa 25%, setiap detik di lapangan hijau dalam sembilan laga ke depan akan terasa seperti final bagi Persebaya.
Konsistensi dalam meraih kemenangan dan kemampuan mencuri poin di kandang lawan akan menentukan apakah Green Force akan terbang tinggi ke empat besar atau harus puas mengakhiri musim di papan tengah. (*/tur)



