KALTENG.CO-CEO Grab, Anthony Tan, menegaskan bahwa adopsi AI sangat penting bagi kelangsungan bisnis. Pelajari bagaimana Grab memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan pengalaman pengguna.
Anthony Tan, pendiri dan CEO Grab, dengan tegas menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar alat bantu, melainkan elemen krusial yang akan menentukan kesuksesan bisnis dan pekerjaan di masa depan.
Dalam pernyataannya yang dikutip dari CNBC, Tan menekankan bahwa perusahaan dan individu yang tidak segera mengadopsi AI akan tertinggal dan berisiko digantikan.
“Manusia yang tidak memanfaatkan AI dalam sebuah perusahaan akan digantikan oleh manusia yang memanfaatkan AI,” ujar Tan.
“Hal yang sama juga berlaku untuk perusahaan. Saya sangat yakin bahwa jika Anda mengadopsinya, AI tidak hanya membuat Anda lebih produktif, tetapi juga membuat perusahaan Anda lebih unggul.”
Grab dan Inovasi AI
Sebagai bukti komitmennya, Grab telah meluncurkan program akselerasi “generative AI sprint” selama sembilan minggu. Program ini bertujuan untuk mengembangkan fitur-fitur berbasis AI yang dapat meningkatkan pengalaman pengguna, mulai dari mitra pengemudi hingga pelanggan. Salah satu inovasi yang dihasilkan adalah asisten AI bernama “driver co-pilot,” yang membantu pengemudi mendapatkan lebih banyak pesanan dan mengurangi waktu tunggu penumpang.
Tan menegaskan bahwa AI seharusnya tidak ditakuti, melainkan dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja pekerja dan pengusaha. Grab, yang didirikan pada tahun 2012, telah berkembang menjadi aplikasi serba ada di Asia Tenggara, menawarkan berbagai layanan mulai dari transportasi hingga layanan keuangan. Pada tahun 2024, Grab mencatat pendapatan sebesar USD 2,8 miliar, meningkat 19 persen dari tahun sebelumnya.
Pengalaman Pribadi Anthony Tan dengan AI
Tan juga berbagi pengalaman pribadinya dalam menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi kerja. Meskipun bukan seorang programmer, ia memanfaatkan AI sebagai asisten dalam berbagai proyek.
“Saya tidak bisa menulis kode pemrograman, tetapi saya menggunakannya untuk membangun proyek saya sendiri, melakukan riset, dan mengembangkan strategi untuk Grab,” ujarnya. “AI benar-benar mengubah cara saya menghabiskan waktu dan meningkatkan produktivitas saya.”
Tren Adopsi AI dan Dampaknya
Menurut laporan World Economic Forum, 40 persen perusahaan berencana mengurangi jumlah tenaga kerja karena adopsi AI, sementara 86 persen bisnis memperkirakan teknologi ini akan mengubah lanskap industri pada tahun 2030. Menyadari tren ini, Tan menekankan pentingnya transformasi kolektif.
“Saya menyadari bahwa menjadi ‘superhuman’ sendirian tidak cukup. Saya perlu memastikan bahwa lebih dari 7.000 karyawan kami juga menjadi ‘superhuman’ dengan memanfaatkan AI,” katanya.
Selama sembilan minggu, Grab menghentikan berbagai operasi rutin untuk fokus pada pengembangan AI. Langkah ini menghasilkan berbagai inovasi, termasuk asisten AI untuk mitra merchant yang berfungsi sebagai sous chef, asisten pengemasan, dan kepala keuangan dalam satu sistem.
“Bayangkan seorang ibu tunggal yang menjalankan usaha makanan di Jakarta. Sekarang, ia memiliki asisten yang membantunya dalam banyak hal, dari memasak hingga mengelola keuangan,” jelas Tan.
Dengan perkembangan AI yang pesat, pesan Anthony Tan jelas: AI bukan ancaman, melainkan peluang. Perusahaan dan individu yang tidak mengadopsinya akan tertinggal, sementara mereka yang memanfaatkannya akan melesat ke depan. (*/tur)