AS-Iran Saling Serang di Selat Hormuz: Siap-siap! Pasokan Minyak Dunia Terancam Lumpuh

KALTENG.CO-Harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik tajam pada perdagangan Senin (20/7/2026).
Lonjakan harga ini dipicu oleh eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang semakin memanas sepanjang akhir pekan, memicu kekhawatiran global akan potensi perang terbuka yang dapat melumpuhkan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data Investing, harga minyak mentah acuan jenis Brent melonjak 2,42 poin atau sekitar 2,75 persen hingga menyentuh level USD 90,50 per barel. Sementara itu, jenis West Texas Intermediate (WTI) turut terkerek naik 1,94 poin atau 2,38 persen menuju level USD 83,73 per barel.
Buntut Saling Serang AS-Iran Jelang Akhir Pekan
Kenaikan signifikan pada komoditas energi ini merupakan dampak langsung dari memburuknya konfrontasi militer kedua negara. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pihaknya kembali meluncurkan gelombang serangan udara baru ke sejumlah target strategis di wilayah Iran pada Minggu malam.
Langkah balasan dari Washington ini dipicu oleh serangan mematikan pihak Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania yang mengakibatkan setidaknya dua prajurit Amerika tewas serta puluhan lainnya luka-luka.
Sebagai respons, militer Amerika Serikat memperluas gempuran target militer di Iran. Di sisi lain, Tehran juga dilaporkan meningkatkan intensitas gempurannya ke wilayah negara-negara Teluk di sekitarnya.
Konfrontasi Memanas di Selat Hormuz
Fokus pertempuran saat ini tertuju pada penguasaan jalur maritim vital, Selat Hormuz. CENTCOM menegaskan bahwa rangkaian operasi militernya dirancang untuk melemahkan kapabilitas tempur Iran yang kerap menyasar kapal-kapal komersial maupun tanker di perairan strategis tersebut.
Eskalasi terbaru ini tercatat sebagai bentrokan terburuk antara AS dan Iran sejak kesepakatan gencatan senjata pada April lalu. Dengan memanasnya situasi di lapangan, negosiasi damai yang sempat diupayakan kedua pihak kini dinilai berada di ambang kehancuran total.
Ancaman Pasokan Global dan Premi Risiko Pasar
Dampak dari pertikaian ini berimbas langsung pada alur logistik energi global. Hingga kini, sebagian besar aktivitas pengiriman minyak dan gas bumi yang melintasi Selat Hormuz masih mengalami gangguan parah.
Kondisi tersebut memaksa para pelaku pasar global tetap berada dalam posisi waspada tinggi. Pasar mulai memperhitungkan lonjakan premi risiko (risk premium) yang lebih tinggi pada harga komoditas minyak, mengingat potensi gangguan pasokan dalam jangka panjang dapat memicu krisis energi regional. (*/tur)



