BeritaLife StyleMETROPOLIS

Fenomena Fesyen Lolita Jepang di Tiongkok: Dari Subkultur Menjadi Industri Triliunan Rupiah

KALTENG.CO-Fesyen Lolita asal Jepang kini mengalami lonjakan popularitas yang signifikan di Tiongkok. Gaya berpakaian khas yang identik dengan gaun renda, rok mengembang, dan estetika boneka klasik ini tidak lagi sekadar menjadi hobi kelompok minoritas atau subkultur semata.

Saat ini, tren busana unik tersebut telah bertransformasi menjadi pasar raksasa bernilai miliaran yuan.

Gaya busana ini terutama digandrungi oleh kaum perempuan muda berusia belasan hingga 20-an tahun yang ingin mengekspresikan identitas serta gaya personal mereka. Popularitasnya yang kian melejit juga tidak lepas dari dorongan budaya pop Jepang seperti anime, film, dan tren estetika “kawaii” (imut).

Jejak Harajuku yang Merebak di Kota-Kota Besar Tiongkok

Fesyen Lolita pertama kali lahir dan berkembang di kawasan legendaris Harajuku, Tokyo, pada era 1990-an. Kini, pemandangan perempuan yang mengenakan busana Lolita semakin mudah dijumpai di berbagai jalanan dan pusat perbelanjaan kota besar di Tiongkok.

Salah satu bukti kuat tren ini terlihat di toko merek asal Jepang, Atelier Pierrot, yang berlokasi di pusat perbelanjaan Shanghai. Toko tersebut dipenuhi koleksi gaun hitam berhias renda, pita, dan rok bertumpuk bergaya Gothic Lolita (Goth-Loli)—aliran yang memadukan siluet renda khas Lolita dengan dominasi warna-warna gelap yang dramatis.

“Saya membeli satu set pakaian setiap bulan. Saya juga selalu menantikan perjalanan ke Jepang setiap tahun untuk membeli koleksi baru,” ungkap seorang perawat berusia 29 tahun yang menjadi pelanggan setia toko tersebut.

Proyeksi Pasar: Tembus Rp81 Triliun pada 2030

Besarnya antusiasme konsumen mendorong makin banyaknya merek fesyen Jepang untuk membuka gerai fisik di Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi di sektor ini pun mencatatkan angka yang sangat fantastis.

Berdasarkan data asosiasi industri Tiongkok, nilai pasar fesyen Lolita diproyeksikan melonjak tajam:

  • Tahun 2024: 6,8 miliar yuan (sekitar Rp35,4 triliun)

  • Tahun 2030: Diprediksi menembus 15,6 miliar yuan (sekitar Rp81,2 triliun)

Komunitas dan Emotional Economy

Pertumbuhan pesat ini tidak hanya mengandalkan transaksi online. Komunitas penikmat fesyen Lolita aktif bergerak lewat berbagai acara tatap muka. Data dari Japan External Trade Organization (JETRO) mencatat ada lebih dari 180 acara bertema Lolita yang digelar di seluruh Tiongkok sepanjang tahun 2024, membukukan penjualan langsung mencapai 980 juta yuan (sekitar Rp2,2 triliun).

JETRO menilai Tiongkok saat ini menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan paling pesat di Asia untuk industri fesyen Lolita, di mana permintaan terhadap produk orisinal buatan merek Jepang terus meroket.

Fenomena ini erat kaitannya dengan fenomena emotional economy yang tengah marak di Tiongkok. Konsumen muda saat ini cenderung membeli produk yang menawarkan kepuasan emosional dan nilai estetika tinggi, ketimbang sekadar fungsi praktis pakaian sehari-hari.

Bagian dari “Tiga Obsesi” dan Peran Media Sosial

Di kalangan anak muda Tiongkok, fesyen Lolita sering kali dikelompokkan bersama dua gaya populer lainnya, yaitu:

  1. Hanfu: Pakaian tradisional khas Tiongkok.

  2. Seragam Sekolah Bergaya Jepang (JK Uniform): Gaya kasual bertema pelajar.

Ketiga gaya busana ini dijuluki secara luas di media sosial sebagai “Tiga Obsesi”, sebab para penggemarnya dikenal sangat mendalami dan menjadikan gaya tersebut sebagai bagian integral dari gaya hidup mereka.

Media sosial turut berperan sebagai akselerator utama. Penggemar berburu pakaian yang photogenic untuk diunggah di platform digital, menjadikan fesyen sebagai sarana utama dalam memamerkan identitas diri di dunia maya.

Pameran JETRO dan Dampaknya Bagi Merek Jepang

Melihat besarnya peluang pasar tersebut, kantor JETRO di Shanghai mengambil langkah strategis dengan menggelar pameran khusus fesyen Lolita dari Juni hingga Agustus. Acara ini menghadirkan beragam koleksi dari 19 merek ternama asal Jepang, memberi kesempatan bagi para pengunjung untuk mencoba langsung pakaian dan berfoto.

Salah satu pengunjung yang hadir adalah Popo, seorang kreator konten terkenal asal Tiongkok yang fokus pada tema Lolita. Ia mengaku jatuh cinta pada gaya busana ini sejak duduk di bangku SMA setelah menonton aktris Kyoko Fukada dalam film kultus Kamikaze Girls (2004).

“Hingga sekarang saya masih sering memilih merek-merek Jepang,” tutur Popo.

Xu Xiaolei dari pihak JETRO menambahkan bahwa konsumen fesyen Lolita di Tiongkok sangat mengedepankan kualitas dan keaslian merek (brand-conscious). Banyak di antara mereka yang tidak ragu merogoh kocek lebih dari 1.000 yuan (sekitar Rp2,2 juta) per potong pakaian demi mendapatkan koleksi asli buatan Jepang.

Tingginya loyalitas dan daya beli konsumen ini diharapkan akan terus mendongkrak performa penjualan serta ekspansi bisnis perusahaan-perusahaan fesyen Jepang di pasar Tiongkok ke depannya. (*/tur)

Related Articles

Back to top button